Halo sobat mahasiswa.

Menjadi mahasiswa, kamu memiliki kebebasan untuk memilih apa yang akan kamu lakukan semasa menjalani pendidikan tinggi.

Banyaknya pilihan kegiatan yang dapat diambil oleh seseorang ketika menjalankan kehidupannya di dalam kampus membuat golongan mahasiswa/i tertentu diberikan label.

Label-label tersebut di antaranya adalah mahasiswa akademis, mahasiswa aktif organisasi, aktivis, mahasiswa kura – kura, mahasiswa kupu – kupu dan masih banyak lagi.

2 di antara kelompok mahasiswa yang paling terletak perbedaannya adalah mahasiswa pengejar prestasi akademik dan mahasiswa aktif berorganisasi atau bisa disebut dengan istilah mahasiswa organisatoris.

Tapi, sebenarnya apa sih perbedaan yang paling jelas antara ke-2 kelompok ini? Buat kamu mahasiswa yang telah duduk di semester pertengahan mungkin sudah tahu jawabannya.

Namun, buat kamu yang merupakan mahasiswa baru atau masih duduk di semester awal mungkin belum banyak yang mengetahui letak perbedaan di antara keduanya.

Oleh karena itu, kuy simak tulisan ini sobat!

Perbedaan Mahasiswa Akademis dan Mahasiswa Organisatoris

Mahasiswa akademis adalah mahasiswa yang fokus menjalankan kegiatan-kegiatan akademiknya di dalam maupun luar kampus.

Sementara mahasiswa organisatoris adalah mahasiswa yang lebih banyak meluangkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan non-akademik, seperti sering rapat organisasi, buat kegiatan atau event, pengabdian, pecinta alam.

Selain perbedaan mendasar di atas, ada juga beberapa perbedaan mahasiswa akademis dengan mahasiswa organisatoris yang dapat kamu amati, berikut di antaranya:

1. Kesibukan

Perbedaan pertama dapat kamu amati dengan sangat mudah, sobat. Kamu dapat membedakan mahasiswa akademis dan organisatoris berdasarkan aktivitas yang biasa mereka lakukan sehari-hari.

Mahasiswa akademis biasanya fokus menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Tujuannya tentu untuk mendapatkan IP yang tinggi dan berkesempatan untuk lulus lebih cepat misalnya 3,5 tahun.

Meskipun dilimpahkan tugas yang sama dengan mahasiswa akademis, namun golongan mahasiswa organisatoris biasanya tidak terlalu ambil pusing dengan tugas-tugas kuliah.

Hal ini disebabkan oleh banyaknya rapat dari organisasi yang harus mereka ikuti selepas menyelesaikan jam perkuliahan. Artinya mahasiswa organisatoris sering disebut mahasiswa kura – kura (kuliah rapat – kuliah rapat)

Baca: 8 Perbedaan Mahasiswa Kupu – Kupu dan Mahasiswa Kura – Kura

2. Tempat nongkrong

Ada istilah yang mengatakan bahwa tongkrongan adalah rumah kedua bagi mahasiswa. Hal ini tak terlepas dari peran tongkrongan sebagai tempat berkumpul para mahasiswa selepas menyelesaikan jam perkuliahan.

Golongan mahasiswa akademis maupun organisatoris sebenarnya juga memiliki tongkrongan masing-masing lho, sobat!

Kantin kampus biasanya menjadi tempat favorit bagi golongan mahasiswa akademis untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Sumber gambar: pixabay.com

Hal ini dikarenakan banyaknya pilihan makanan yang membuat pengerjaan tugas tidak terlalu melelahkan, dan didukung oleh Wi-Fi gratis dari kampus yang biasanya disediakan di tiap kantin kampus.

Selain kantin kampus, golongan mahasiswa akademis biasanya juga menjadikan kos-kosan sebagai pilihan favorit untuk menjadi tempat berdiskusi.

Suasana kos-kosan yang lebih tenang dan privat membuat kegiatan diskusi dan belajar bersama materi perkuliahan bersama menjadi lebih efektif.

Baca juga: 10 Tips Cerdas Mengelola Uang Saku untuk Anak Kos

Sementara itu, mahasiswa organisatoris biasanya menjadikan sekretariat organisasi sebagai rumah keduanya.

Fungsi dari sekretariat organisasi itu sendiri yang memang ditujukan sebagai ruang diskusi para anggota organisasi.

Diskusi yang dilakukan juga bukan hanya terkait kegiatan dan pengembangan organisasi, melainkan juga isu-isu lokal dan nasional yang sedang berkembang.

Beberapa kampus di Indonesia juga mengizinkan mahasiswanya untuk bermalam di dalam sekretariat.

Wah, berasa rumah beneran ya, sobat!

3. Hobi

Hal berikutnya yang juga dapat kamu perbandingkan adalah hobi dari kedua golongan mahasiswa tersebut di luar jam perkuliahan dan kesibukan sehari-hari.

Kemampuan akademis yang mumpuni di bidangnya biasanya mendorong golongan mahasiswa akademis untuk beradu kemampuan dan prestasi dengan mengikuti perlombaan / kompetisi mulai dari tingkat regional hingga internasional.

Perlombaan yang biasanya terbuka untuk mahasiswa sendiri ada bermacam-macam, mulai dari debat, karya tulis ilmiah, esai, film pendek, desain grafis, business plan, robotik, dan lain-lain.

Sementara itu mahasiswa organisatoris memiliki hobi membuat acara atau event mahasiswa.

Acaranya sendiri juga beragam, mulai dari seminar hingga pengabdian masyarakat yang biasanya juga menjadi bagian dari program kerja organisasi.

Ingin event kamu bekerjasama dengan Ruang Mahasiswa?

Baca prosedur berikut ini: Ruang Mahasiswa Media Partner

4. Kemampuan

Sumber gambar: pixabay.com

Perbedaan kesibukan dan hobi di atas kemudian mempengaruhi kemampuan yang dimiliki oleh tiap golongan.

Hardskill sendiri adalah kemampuan dalam sebuah bidang yang telah dipelajari selama bertahun-tahun di bangku sekolah dan kuliah.

Contohnya, seorang mahasiswa desain komunikasi visual yang memiliki kemampuan untuk membuat ilustrasi, karikatur dan desain grafis atau mahasiswa jurusan sastra Inggris yang handal dalam menggunakan bahasa Inggris.

Sementara softskill merujuk pada keterampilan dalam berinteraksi secara nyaman dan baik dengan orang lain.

Misal, seorang desainer grafis yang bekerja dalam sebuah perusahaan dituntut untuk dapat berkolaborasi dengan desainer grafis lainnya, atau seorang mahasiswa Sastra Inggris yang dituntut untuk cakap berkomunikasi, mengontrol emosi dan memimpin perjalanan ketika menjadi seorang tour guide.

Mahasiswa akademis biasanya lebih condong menguasai hardskill khususnya yang berkaitan dengan bidang studinya.

Sementara mahasiswa organisatoris lebih dominan dalam penguasaan softskill.

Namun jika kamu bisa mengkombinasikan keduanya, itu sesuatu hasil yang sangat bagus

5. Target

Sumber gambar: pixabay.com

Setiap orang pasti memiliki target yang ingin dicapai. Begitupun para mahasiswa yang memang berada dalam tahap mencari pencapaian dan pengakuan sebagai modal untuk bersaing di dunia yang sesungguhnya.

Untuk itu, mahasiswa akademis dan organisatoris biasanya memiliki target yang berbeda.

Mahasiswa akademis biasanya fokus menargetkan untuk mendapatkan IP yang tinggi dan menorehkan prestasi-prestasi dalam bidang akademik.

Sementara itu, mahasiswa organisatoris memiliki target dapat menyelesaikan program kerja-program kerja yang telah disusun dengan lancar.

Selain itu, mahasiswa organisatoris juga biasanya memasang target untuk mendapatkan prestasi di organisasi, seperti menjadi staff of the month atau duduk di jabatan tertentu atau hingga menjadi pimpinan tertinggi seperti Presiden Mahasiswa di BEM.

Akademis dan Organisatoris, memangnya harus pilih salah satu?

Setelah mengetahui 5 perbedaan di atas, tentu kamu berpikir, apakah kita tidak dapat menjadi mahasiswa akademis dan organisatoris pada saat yang bersamaan?

Toh dua-duanya memiliki kegiatan positif yang bermanfaat untuk pengembangan diri.

Jawabannya tentu saja bisa, selama kamu dapat membagi waktu dengan baik. Yang sering menjadi kendala adalah jam perkuliahan dan jam organisasi yang sama-sama padat dan tak jarang saling bertabrakan.

Untuk mengatasinya, kamu dapat memilih organisasi yang tidak terlalu banyak menghabiskan waktu. Atau juga memilih organisasi yang tetap mendukung dan sejalan dengan proses akademik kamu

Kamu juga dapat mengomunikasikan kendala-kendalamu terutama terkait waktu dengan pimpinan organisasi agar dapat dicari jalan keluarnya.

Dengan fokus belajar di dalam kelas sekaligus mencari pengalaman di luar kelas, manfaat yang akan kamu dapatkan sangat banyak, sobat!

Kamu dapat menguasai hardskill sekaligus memperoleh banyak softskill dalam waktu yang bersamaan.

Kedua keterampilan ini dapat menjadi modal utama kamu untuk bersaing di dunia yang sesungguhnya!