Halo, Sobat Mahasiswa di seluruh Indonesia !

Kemajuan teknologi informasi juga memunculkan peluang dan kesempatan baru, seperti terciptanya berbagai pekerjaan baru. 

Bidang komunikasi merupakan salah satu bidang yang berkaitan dengan penggunaan teknologi di era digital turut merasakan manfaat kemajuan ini.

Jadi walaupun media massa makin ditinggal di era digital sekarang, tetapi makin banyak peluang profesi baru yagn bisa dilakukan di media digital.

Nah, berikut prospek kerja baru untuk teman – teman yang mengambil konsentrasi kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi di era digital saat ini:

1. Content Writer

Prospek kerja baru lulusan Ilmu Komunikasi pada industri berbasis digital yang sedang banyak dicari pertama adalah content writer.

Sesuai namanya, content writer merupakan profesi yang berkecimpung di dunia kepenulisan. 

Tidak hanya soal menulis, para content writer juga perlu menguasai beberapa kemampuan dan teknik yang berkenaan dengan teknologi untuk membantu pekerjaannya. 

Seorang content writer merupakan penulis profesional yang memproduksi konten-konten berupa tulisan yang nantinya diunggah pada media daring, seperti situs web (website), blog, atau media sosial. 

Dalam membuat tulisan, content writer harus mampu menyelaraskan topik tulisan yang dibuat agar sesuai dengan latar belakang dan tujuan perusahaan sekaligus menjawab kebutuhan audiens atau target sasarannya. 

Untuk dapat menjadi content writer diperlukan beberapa kemampuan dan keterampilan yang meliputi:

Menulis

Menulis menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh content writer.

Kemampuan menulis ini dapat dilihat ketika tulisan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif dan menjawab permasalahan yang ditanyakan audiens. 

Oleh karena itu, content writer juga perlu untuk berempati saat proses penulisan dengan menempatkan diri dalam menilai hasil kerjanya untuk dibaca oleh orang lain. 

Melakukan Riset

Riset yang dimaksud adalah mencari dan mengembangkan topik-topik relevan yang dibutuhkan oleh para pembaca. Relevansi topik juga dapat dicari melalui tren masyarakat yang sedang terjadi. 

Kemutakhiran teknologi membuat proses riset lebih mudah untuk dilakukan, seperti melalui mesin pencari (search engine), media sosial, atau bahkan berdiskusi melalui messenger (contoh: Whatsapp) dan video conference (contoh: Google Meet). 

Memahami Search Engine Optimization (SEO)

Artikel yang dibuat oleh Content writer diharapkan memiliki kunjungan (traffic)yang tinggi terhadap situs web, blog, atau media sosial perusahaannya.

Semakin relevan konten tulisan yang dibuat, semakin banyak pula pengunjung yang datang untuk membaca hasil tulisan content writer tersebut. Hal ini menjadi kesuksesan bagi content writer. 

Bagi content writer, menciptakan konten yang relevan untuk bisa sukses memerlukan pemahaman atas strategi berupa SEO.

SEO sendiri merupakan pengoptimalan website dalam merancang konten tulisan dengan bantuan perangkat digital (tools) agar berada pada halaman pertama mesin pencari.

Untuk bisa menjadi content writer yang mumpuni, Sobat Mahasiswa tidak harus belajar semuanya dalam satu waktu.

Penguasaan setiap keterampilan dapat dilakukan secara bertahap sehingga nantinya saat sudah bekerja bisa dipraktikkan secara optimal.

Baca juga: 6 Cara Mahasiswa Bisa Sukses Menjadi Penulis Artikel sebagai Pekerjaan

2. Social Media Officer (SMO)

Sumber gambar: pexels.com

Prospek kerja baru jurusan Ilmu Komunikasi selanjutnya datang dari bidang komunikasi strategis , yakni Social Media Officer (SMO)

Munculnya profesi SMO merupakan dampak positif dari kehadiran sosial media yang mengubah bentuk komunikasi perusahaan.

Keberadaan media sosial membuat perusahaan mampu berinteraksi dengan pengguna internet (netizen: seperti istilah saat ini) secara real time melalui berbagai bentuk media, baik tulisan, visual, audio, maupun audiovisual. 

SMO bertanggung jawab dalam branding dan marketing perusahaan. SMO juga mengemban beberapa tugas besar, di antaranya mengelola dan meningkatkan interaksi brand di media sosial, menjaga citra brand, serta menjaga kedekatan emosional perusahaan dengan audiens.

Untuk mencapai kesuksesan tersebut, SMO merencanakan dan mengeksekusi konten dalam berbagai media yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing media sosial.  

Lantas, apa saja kemampuan dan keterampilan yang harus dimiliki untuk menjadi seorang social media officer?

Social Media Savvy

Membuat konten yang relevan dengan minat audiens adalah hal yang sangat penting. Relevansi mampu menumbuhkan ikatan emosional antara audiens dengan brand atau perusahaan. 

Akan tetapi, konten tidak bisa asal dibuat relevan. Penting untuk memahami seluk beluk dan karakteristik setiap media sosial agar konten bisa diterima audiens di setiap platform dengan maksimal sesuai preferensinya. 

Memiliki Keterampilan Teknologi dan Desain

Konten yang mampu menarik perhatian biasanya adalah konten yang memiliki kesamaan tinggi dengan minat audiens yang dikemas menggugah. 

Untuk mengetahui apa yang menjadi minat audiens, maka bisa dicari tahu melalui tools SEO. Selain itu, media sosial seperti Twitter juga dapat digunakan sebagai ladang dalam mencari tahu tren di masyarakat. 

Era digital juga identik dengan kemasan visual yang menarik, termasuk dalam membungkus informasi. Kemampuan untuk mendesain saat ini menjadi salah satu keutamaan yang dibutuhkan jika kamu ingin berkecimpung di dunia media sosial. 

Komunikasi yang Baik

Seorang Social Media Officer bisa dikatakan adalah seorang desainer dan juga eksekutor konten media sosial. Dalam menyampaikan ide ke tim, SMO perlu memaparkan ide dengan jelas sesuai apa yang dimaksud.

Maka dari itu, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik adalah soft skill yang perlu dikuasai oleh SMO.

Kreatif

Soft skill selanjutnya yang wajib dimiliki oleh SMO yakni adalah menjadi sosok yang kreatif. 

Meskipun internet menyediakan berbagai ide tanpa batas, namun apabila SMO tidak mengembangkan dan mengola ide dengan baik maka belum tentu konten akan menarik minat audiens. 

Selain itu, kreativitas juga diperlukan ketika terjadi run out of idea. Orang-orang dengan kreativitas tinggi biasanya mampu memulas ide usang menjadi sesuatu yang tidak terpikirkan orang lain.

Pekerjaan seorang SMO sangat menantang, baik dari segi jumlah pekerjaan maupun target yang harus dicapai.

Akan tetapi, beberapa perusahaan telah beradaptasi dengan membentuk divisi sosial media tersendiri sehingga pembagian kerja dilakukan bersama tim. 

3. Jurnalis Data

Jurnalis data mungkin masih menjadi profesi yang asing bagi sebagian orang. Akan tetapi, profesi yang lahir sebagai adaptasi IPTEK di era digital ini sedang gencar dicari, lho

Untuk kamu yang ingin atau sedang menempuh jurusan Ilmu Komunikasi, ngga ada salahnya mencoba sesuatu yang baru ini!

Apa itu jurnalisme data?

Jurnalisme data atau disebut sebagai Data Driven Journalism (DDJ) merupakan proses jurnalistik berdasar analisis dan penyaringan dari kumpulan data untuk membuat berita dengan bantuan komputer. 

Sumber gambar: pexels.com

Hal ini bukan berarti jurnalisme sehari-hari yang kita kenal (konvensional) tidak berdasar data.

Akan tetapi, jurnalisme data memiliki penekanan lebih luas terhadap pemanfaatan ketersediaan dan keterbukaan data yang dapat diakses oleh publik melalui sambungan internet. 

Ketersediaan dan keterbukaan data ini dimanfaatkan untuk menemukan pola dan menempatkan konteks yang sesuai sehingga dapat digunakan untuk kepentingan yang lebih jauh, seperti proses investigasi dan pengambilan keputusan. 

Apa saja tugas dari jurnalis data?

Sebagaimana adaptasi terhadap era digital yang kental dengan data dan visualisasi, maka jurnalisme data juga berhubungan dengan data besar (big data) dan penyajiannya (visualisasi data). 

Beberapa perusahaan yang memuat bidang jurnalisme data membagi jurnalis data ke dalam beberapa pekerjaan, yakni akuisisi, analisis, dan presentasi.

  • Akuisisi: aktivitas mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan perangkat komputer
  • Analisis: aktivitas dalam mengkalkulasi data untuk dicari pola, cerita, dan petunjuk dari suatu kejadian
  • Presentasi: penyajian data secara informatif melalui tampilan yang menarik, seperti infografis, aplikasi berita (news app), situs web, video berita, dan animasi

Pada proses pengumpulan data memang memerlukan keahlian teknis dan mungkin lebih sering dilakukan oleh orang dengan latar belakang teknologi. 

Namun, menjadi kesempatan emas bagi lulusan jurusan Ilmu Komunikasi untuk mengambil peran dalam menganalisis dan mengolah data baik kuantitatif maupun kualitatif menjadi informasi yang berguna untuk wawasan masyarakat.

Pengolahan data menjadi informasi adalah hal yang sangat penting. Dalam prosesnya diperlukan penempatan konteks yang sesuai dan dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Selain itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi juga dapat mengisi tempat dalam pekerjaan menyajikan data dan informasi ke dalam visualisasi yang menarik. 

Baca juga: Mengapa Kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi? Berikut 7 Alasan Pentingnya!

4. CopyWriter

Copywriter memang bukanlah pekerjaan baru di era serba digital. Namun, justru di saat akses informasi begitu mudah didapatkan, profesi Copywriter semakin dibutuhkan. Mengapa demikian?

Copywriter merupakan pekerjaan yang menuntut kemampuan penulisan kreatif untuk membentuk branding dan memasarkan produk dan layanan perusahaan atau kliennya.

Copywriter juga tidak sama dengan content writer secara fokus dan tujuan pekerjaan

Baca juga: Hobi Menulis? Ketahui 5 Perbedaan antara Copywriter dan UX Writer

Copy atau tulisan yang dibuat harus dapat merepresentasikan nilai dari brand. Melalui copy writing diharapkan audiens sasaran bisa menangkap nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh brand

Pebuatan copy juga biasa ditujukan untuk mengubah perilaku audiens agar selaras dengan maksud perusahaan.

Misalnya, jika brand atau perusahaan memiliki tujuan komersil, maka copy diharapkan mampu mendorong audiens melakukan transaksi. 

Beberapa kemampuan yang diperlukan untuk dapat menjadi seorang copy writer yakni:

Kemampuan Riset

Riset merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang copy writer.

Hasil riset diharapkan mampu mengungkapkan pola perilaku dan preferensi audiens. Selain itu, riset juga membuat copy writer memahami tren yang terjadi di masyarakat. 

Kesimpulan dari riset diharapkan mampu mengarahkan copy writer untuk menghasilkan ide-ide kepenulisan yang mampu menarik perhatian audiens sasaran. 

Kreatif

Mengolah hasil-hasil riset ke dalam ide-ide segar yang out of the box adalah kemampuan yang juga harus dimiliki oleh copy writer.

Kreativitas dalam menginterpretasikan hasil riset menjadi sebuah ide original akan lebih menciptakan ciri khusus brand.

Diharapkan dengan semakin uniknya copy brand, semakin sukses juga tujuan copy yang ingin dicapai.

Berpikir Kritis dan Peka terhadap Lingkungan

Membuat copy memerlukan logikan penalaran yang baik. Hal ini penting untuk menyadari pola, preferensi, dan reaksi, ketika orang membaca dan menginterpretasikan copy yang dibuat. 

Selain itu, copy writer juga dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungan. Selain menarik perhatian audiens, copy diharapkan juga tidak menyinggung pihak lain. 

Memiliki Empati Tinggi

Saat menulis copy, penting untuk menempatkan diri sebagai audiens yang membaca tulisan yang dibuat.

Memahami posisi orang lain berarti berusaha mengerti apa yang mereka tangkap dan bagaimana menyikapi copy tersebut. 

Menjadi copy writer berkenaan dengan marketing communication. Dalam prosesnya akan ada kolaborasi bersama. Oleh karena itu, seorang copy writer harus memiliki semangat belajar yang tinggi.

5. UI/UX Designer

Sumber gambar: pexels.com

Satu lagi pekerjaan baru yang hadir di era digital, yakni UI/UX designer.

Peluang profesi UI/UX designer sedang sangat terbuka lebar. Banyak lowongan pekerjaan dan magang yang tersedia untuk posisi ini.

Sebenarnya, UI/UX designer merupakan jenis profesi yang sangat terbuka dan tidak terbatas pada satu bidang ilmu tertentu, bisa dari rumpun IT, DKV hingga jurusan Ilmu Komunikasi sendiri.

Tugas dan peran yang diemban UI/UX designer memerlukan kolaborasi yang padu dari berbagai hard skill dan soft skill.

Apa itu UI/UX designer?

Sejatinya, UI/UX designer merupakan dua pekerjaan berbeda yang saling terkait.

UI designer berfokus pada seni mendesain atau merancang tampilan visual dari situs web dan aplikasi yang memerhatikan banyak, di antaranya tata letak, warna, pemilihan font, dan masih banyak lagi. 

Sedangkan, UX designer berfokus pada pengguna untuk menciptakan pengalaman terbaik terhadap pengguna produk brand.

Keduanya berkolaborasi untuk menciptakan pengalaman positif bagi pengguna melalui tampilan (interface) terhadap tampilan aplikasi atau situs web yang digunakannya.

Untuk menjadi UI/UX designer diperlukan beberapa kemampuan dan keterampilan. Secara garis besar, Sobat Mahasiswa harus menguasai hal-hal berikut ini:

  • Melakukan riset
  • Memahami konsep desain dan komunikasi visual
  • Kemampuan berpikir untuk memecahkan masalah (problem solving)
  • Kemampuan analisis yang baik
  • Berempati 
  • Memahami wireframing dan prototyping beserta tools yang digunakan (Adobe XD, Figma, Marvel, dan Zeplin)

Sama seperti pekerjaan lainnya, akan ada masa sulit dalam proses memahami dan menguasai sesuatu.

Namun, jika kalian ingin menjadi UI/UX designer, inilah saatnya mencoba mengenal kemampuan dan keterampilan yang harus dimiliki.


Itu tadi lima prospek kerja baru bagi lulusan Ilmu Komunikasi di era digital yang dapat menjadi prospek kerja lulusan Ilmu Komunikasi.

Apakah kalian tetarik mencoba, Sobat Mahasiswa?


*Artikel ini telah ditulis berdasarkan beberapa referensi valid berupa kumpulan media – media online terpercaya

Penulis Septiana Noor Malinda
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UGM