Sejujurnya saya tak pandai-pandai kali dalam hal menulis.  Akan tetapi tulisan saya (yang sebenarnya tidak seberapa itu), puji Tuhan sudah diangkat beberapa kali di beberapa media online dan cetak.

Atas dasar itulah saya mencoba memberikan sumbang saran kepada khalayak langkah-langkah menjadi penulis profesional (garisbawahi ya profesional). Ok deh guys. Ini dia tipsnya:

1. Niat

Apapun ceritanya, melakukan sesuatu hal itu dimulai dari niat. Niat menjadi awal dan pijakan kita dalam melakukan sesuatu hal. Dalam kepenulisan misalnya, niat dimulai dengan rasa kesukaan besar kita pada sesuatu hal. Atas dasar kesukaan kita yang besar tersebut semakin memperbesar capaian dan tujuan dari niat yang kita buat.

Kalau kita setengah-setengah melakukan sesuatu hal sebaiknya kita perlu merevisi niat kita sedari awal. Kalau niat mari dijalankan, kalau tidak tinggalkan. Jangan setengah-setengah melakukan sesuatu hal.

Baca: Ingin Menjadi Penulis? Gabung dengan kami sekarang!

2. Passion (kegemaran)

Dalam menulis, jadikan tulis-menulis menjadi passion mu. Mengapa harus kita jadikan kegemaran. Karena kita akan lebih senang melakukannya. Kita merasa tidak dibebani. Kita merasa ikhlas hati melakukannya. Ada penilkmatan di dalamnya.

Coba anda lihat seberapa kuat orang melakukan sesuatu hal kalau ia tidak menikmatinya. Pasti banyak yang gagal akan pekerjaannya tersebut. Ibarat hal dengan kita makan es krim, kalau tidak kita nikmati dan langsung telan bulat-bulat tentu anda akan tahu apa yang terjadi.

Yang mau saya katakan dalam kepenulisan ini jadikan tulis-menulis menjadi kegemaran kita. Karena otomatis kita akan menikmatinya.

3. Membaca

penulis profesional 2

Tingkat membaca kita dewasa ini sangat rendah. 0.01 adalah angka yang sungguh miris yang kita terima sebagaimana dilansir data UNESCO 2015. Kaitan dengan kepenulisan ini tentunya para pembaca sudah mengetahuinya.

Menulis dan membaca adalah sepasang suami-istri. Mereka tidak dapat dipisahkan. Mereka saling melengkapi. Dalam kepenulisan sudah otomatis kita dituntut harus banyak membaca.

Menulis membutuhkan referensi yang banyak. Bisa itu kita dapat membaca buku, media cetak, online, jurnal dan lain macamnya.

Dengan banyak membaca tentunya selain menambah khasanah pengetahuan kita, yang lebih utama ialah menambah kosakata kita dalam tulis-menulis. Penggunaan kata atau diksi kata menjadi hal yang kita dapat mayoritas dari kegiatan membaca. Sudah jelas dong.

Baca: 7 Tips Ngeblog Bagi Mahasiswa

Jangan pernah tinggalkan membaca kita ya. Jangan sampai blunder kayak Tere Liye, yang sangkin banyaknya menulis. Lupa baca. Baca sejarah itu loh. Sejarah gerakan kiri. Miris kan melihatnya. Maka dari itu, jangan lupa membaca ya guys.

4. Ada resah dan kepekaan

Dalam hal kepenulisan, keresahan dan kepekaan kita terhadap suatu fenomena memberikan stimulus dan referensi dalam hal menulis. Banyak dari penulis profesional kita yang mengamini hal ini. Pramoedya Ananta Toer misalnya. Beliau adalah penulis wahid yang pernah masuk nominasi Nobel di masanya.

Pelajaran berharga dari Pram ialah, Pram selalu mendekatkan tulisannya pada realitas sosial yang ada. Realitas itu memancing keresahan dan kepekaan Pram dalam kepenulisannya. Sehingga banyak kita lihat tulisan-tulisan beliau yang menyayat kalbu, menusuk batin dan bahkan tak jarang membuat kita meneteskan air mata ketika membacanya.

Yang mau saya katakan ialah: menulis harus didekatkan pada realitas, boleh imajinatif (terkhusus dalam puisi dan prosa), akan tetapi jangan sampai mengawang-ngawang dan blunder, yang terpenting substansinya dapat. Hal ini diperlukan agar terjadi ketersampaian pesan yang baik.

5. Biasakan Di Tempat Sunyi dan Asri

6 Langkah Menjadi Penulis Profesional

Dalam hal menulis suasana lingkungan dan sekitar kita sangat mempengaruhi. Suasana yang dimaksud adalah suasana hening dan asri. Suasana hening memberikan stimulus kefokusan dalam diri kita. Kita menjadi subjek yang hanya tertuju pada satu objek semata dan menafikan yang lainnya.

Hal ini penting mengingat kefokusan menjadi kunci kita dalam menulis yang baik. Kefokusan ini hanya bisa didapat mayoritas bila suasana hening. Pramoedya, Tan Malaka, Gramsci, ialah para penulis yang melahirkan karya-karya besarnya berasal dari balik jeruji besi yang dingin dan hening. Eksplorasi pengetahuan mereka menjadi berlipat ganda.

Hosting Unlimited Indonesia

Baca: 7 Manfaat Membaca Buku

Selain itu suasana asri juga menstimulus kreatifitas menulis. Cobalah anda memalingkan wajah ke hamparan hijau yang ada di sekitar anda. Entah itu pepohonan, rerumputan dan lain macamnya. Tingkat kreatifitas kita akan naik 2 kali lipat dari biasanya.

Suasana asri mempengaruhi otak kita dalam merespon syaraf-syaraf yang berhubungan dengan tingkat kreatifitas kita.

Maka saya sarankan menulislah di bawah pepohonan dengan di kelilingi rerumputan hijau yang menjernihkan mata, maka tingkat kepenulisan anda akan naik dua kali lipat daripada anda bisanya menulis di tempat yang tidak ada hamparan pemandangan hijaunya.

6. Konsistensi

Ini yang terpenting dalam semua ini. Menjadi penulis profesional adalah menasbihkan diri dalam bingkai konsistensi. Konsisten dalam menulis bukanlah hal yang gampang. Selain ini di dorong karena niat dan passion kita.

Konsistensi ini hanya bisa terjaga dari aktivitas yang betul-betul memperlihatkan hal ini. Jangan kita menjadi penumpang gelap yang hanya melaksanakan kepenulisan kita mood-moodan.

Bahasa sederhananya tergantung suasana hati. Jelas ini hanya akan menjadikan kita sebagai penumpang gelap dalam bingkai kebahasaan dan kesastraan kita. Konsistensi adalah urusan kesetiaan kita pada profesi yang kita jalani (tapi proporsional ya). Penuhilah ini, maka dikau dapat disebut sebagai seorang yang profesional.

Well…well..well, bagaimana guys tipsnya, sederhana sekali bukan. Akan tetapi dari kesederhanaannya ini. Banyak orang yang belum mampu melakukannya. Semoga tulisan ini sedikit banyaknya dapat memberikan wawasan mengenai kepenulisan ini. ini hanya tips, boleh dijalankan boleh tidak, kembali ke diri kita masing-masing. Hehehe

Penulis: Fajar Anugrah Tumanggor
*Penulis adalah mahasiswa Departemen Ilmu Politik USU stambuk 2014. Tulisan penulis pernah dimuat di Harian Analisa Medan, Koran Pantura, Koran Madura, riau24.com, dan menaranews.com.