Bagi rumpun ilmu sosial dan ilmu politik, hal yang berkaitan dengan debat, negosiasi, dan diplomasi adalah sebuah keharusan. Karena sejatinya, ilmu sosial bersinggungan langsung dengan aspek sosial dan komunikasi secara intensif. Di antara sekian yang saya sebutkan tadi, debat merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan.

Debat tidak hanya menjadikan sebuah diskusi menjadi kaya, namun debat juga merupakan salah satu ajang kompetisi yang sering diperlombakan di ranah internal dan eksternal.

Saya terbilang orang yang beruntung karena telah memiliki sedikit jam terbang terkait debat ini, meskipun tak cukup mendalam, kiranya pengalaman saya dapat menjadi referensi bagi kawan-kawan semua. Sudah pada penasaran nih apa saja kiat-kiat menjadi debator handal, langsung pantengin nih guys kiat-kiatnya.

1. Mental harus seperti baja

Pernah lihat baja gak bro? Kalau belum, ya sudah lihat aja dulu ya. Baja itu kuat bukan? Tidak gampang rapuh dan patah. Nah, dalam berdebat pun mental harus seperti itu pula, maksud saya jangan baja diartikan diri kita harus seperti robot, kaku dan tak luwes. Baja di sini diartikan kita yang harus tetap kuat dan tegap dalam memandang lawan, jangan langsung ciut, apalagi dengkul terus bergoyang-goyang seraya ketar-ketir melihat lawan yang ada di seberang. Hehe.

Hal  lumrah memang jantung berdetak kencang saat sebelum tampil, apalagi melihat lawan yang tampaknya hebat bukan main. Akan tetapi, usahakan untuk tetap tenang agar konsentrasi pun tidak buyer.

Nah, untuk melatih yang satu ini coba lah melakukannya sendiri di kaca atau langsung praktek dengan teman sesama anggota yang menjadi lawan bicaramu sehingga bisa dievaluasi nantinya. Dijamin kamu pasti akan bisa meminimalisasi gugup dan mental tempe mu. Hehe

2. Penguasaan materi juga harus kuat loh

penguasaan materi

Dalam beberapa pengalaman debat yang saya ikuti, saya banyak belajar bahwa penguasaan materi sangat mempengaruhi ritme debat. Kalau kita tak sepenuhnya menguasai materi anda pasti tahu apa yang akan terjadi.

Kita akan kelabakan, berputar disitu-situ saja dan pada akhirnya kita sendiri bingung apa yang akan kita katakan lagi. Wah-wah kalau sampai seperti ini, siap-siap saja kita akan menempati posisi paling buncit dalam arena kompetisi. Hehe.

Kalau untuk melatih yang satu ini, lakukan terlebih dahulu kompilasi materi yang ingin disampaikan, cari landasan dasar seperti undang-undang, teori-teori atau pun pendapat para ahli yang mendukung posisi kamu, menjadi pro atau kontra sebagai acuan argumentasimu, data-data pun harus akurat, argumentasi pun harus jelas.

Baca: 10 Situs Download e-Book Gratis dan Legal

Buat poin-poin penting dari setiap mosi (tema yang didebatkan) yang ingin kalian perdebatkan, sehingga di arena perdebatan pun tinggal keterampilanmu mengolah poin-poin penting yang sudah kalian persiapkan tadi yang ingin dilihat. Dan lagi-lagi praktekkan di depan kamera atau dengan teman 1 tim.

Dijamin kamu akan lebih baik lagi ke depannya.

3. Keterampilan berbahasa bagaimana Guys?

 Salah satu indikator penilaian debat adalah keterampilan berbahasamu guys. Nah, keterampilan ini sangat dipengaruhi dengan salah satu budaya literasi yakni membaca. Bagaimana dengan bahan bacaanmu guys? Hehe nilai sendiri saja ya.

Keterampilan berbahasa bisa dilihat dan diukur seberapa banyak kamu berkata benar dan berkata salah. Kemudian, jangan biasakan gagap saat melakukan perdebatan, ini tentunya akan mengganggu dan mengurangi nilai.

Misalnya kita sering berhenti sejenak dengan mengeluarkan kata “ekh……”, ini boleh-boleh saja, tapi ingat jangan terlalu lama apalagi terlalu sering digunakan.

Baca: 8 Teknik yang Harus Kamu Kuasai Ketika Wawancara

Juri tentunya bukan orang bodoh ya guys, ia pun mengikuti ritme debat kita. Jadi peribahasa “mulutmu adalah harimaumu” itu tampaknya relevan guys.

Maksudnya, apa yang kamu katakan itulah yang menentukan kualitas dirimu, kualitas ini pun sangat mempengaruhi dalam debat, jadi cobalah seminimal mungkin untuk mengurangi kesalahan dalam hal berbicara, apalagi itu yang tidak logis, tidak empiris dan absurd.

Gunakan kata-kata pada posisinya, proporsional dan profesional. Untuk yang satu ini, perbanyaklah menambah bahan bacaan, dan lagi-lagi praktekkan di depan kamera dan dengan teman setim agar bisa dievaluasi.

4. Penguasaan diri

Dalam debat biasanya tensi dan ritme debat itu memanas. Nah, disini nih yang perlu penguasaan diri. Dengan penguasaan diri kita menjadi terkontrol, tidak keluar jalur permainan yang sudah kita sepakati bersama. Jangan sampai kita terpancing dengan permainan yang dibawa lawan. Tetap tenang dan mampu menguasai keadaan.

Pengalaman saya mengikuti debat, beberapa teman debat dari tim lawan terkadang terbawa oleh permainan lawan, sehingga mereka menjadi tidak terkendali, mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas, bernada tinggi, dan sedikit emosional.

Dalam debat sebenarnya sah-sah saja kita emosional, tapi ingat harus terkendali. Jangan sampai terpancing permainan lawan.

Untuk menguasai diri, coba dan perhatikan permainan lawan, kemana arah mereka dan ritme debat mereka. Setelah itu pergunakan strategimu dan teman-teman satu anggota untuk tidak ikut larut dalam permainan.

Tetaplah tegap dan konsisten dengan argumentasi kalian, karena pancingan lawan itu pada akhirnya bisa merusak argumentasi antara pembicara satu, dua dan ketiga. Dan bisa merusak harmonisasi kelompok. Ini harus diperhatikan.

5. Etika berbicara juga penting

etika berbicara dalam debat

Dalam debat, etika harus di nomorsatukan ya. Kendati pun materi kalian bagusnya naudzubillah, tapi kalau etika berbicara kalian kurang baik, nilai yang kalian dapatkan bisa jauh dari yang kalian harapkan.

Kesopanan berbahasa juga harus diutamakan. Bersikap terlalu frontal dan membabi buta bisa dapat menerjunkan posisi kalian ke tingkat yang paling bawah.

Jadi pergunakan bahasa yang baik, benar dan santun ya. Karena dengan begitu juri pun melihat bahwa perdebatan ini bukanlah perdebatan kedai kopi, tidak berarah dan tidak teratur.

Dalam debat adalah hal lumrah terjadi sanggah-menyanggah, namun etika berbicara harus diutamakan, menyanggah lawan harus menggunakan bahasa yang baik dan santun, tidak menyerang sepihak apalagi menjatuhkannya dengan vulgar, kita harus memberikan sanggahan yang sifatnya tidak menyakiti pihak lawan dengan kata-kata yang kita keluarkan.

Posisi pro-kontra memang sudah mutlak, bagaimana pun mosinya, kita memang harus membela mosi itu dengan argumen masing-masing. Tinggal bagaimana kita dalam membangun argumen tersebut dengan baik, dan sewaktu diperdebatkan ritme nya pun teratur tidak berantakan.

6. Buat parameter yang jelas

Parameter adalah acuan dalam melakukan debat. Acuan ini guna membatasi perdebatan agar tidak melenceng kemana-mana.

Misalnya kita dapat tema “Membangun nasionalisme dengan prestasi olahraga di kancah internasional”. Nah, tema ini belum sepenuhnya mengerucut.

Baca: 7 Tips yang Bisa Kamu Lakukan Sebelum Menghadapi Ujian

Jadi kawan-kawan (apalagi untuk tim pro) sebisa mungkin harus bisa membuat parameter yang jelas untuk membawa permainan.

Bisa saja tema itu dikerucutkan menjadi “Membangun nasionalisme dengan prestasi olahraga bulu tangkis di kancah internasional”.

Nah, dengan begitu, arah debat pun akan jelas. Ini pada akhirnya akan membuat hubungan yang harmonis antara pembicara pertama, kedua dan ketiga. Sehingga tidak menimbulkan kebingungan yang signifikan.

7. Memperhatikan gestur tubuh

Dalam berbicara, secara tidak sadar ada impuls yang kuat dari otak untuk menggerakkan bagian tubuh kita semisal tangan dan wajah. Nah, untuk itu kita harus melakukan kontrol yang kuat pada bagian tubuh tersebut untuk bergerak sesuai dengan posisinya masing-masing.

Misalnya penggunaan tangan, tangan hanya bisa digunakan bagi diri kita sendiri untuk menguatkan argumentasi kita. Kita sering mengayun-ayunkan tangan kita untuk menegaskan sebuah argumentasi atau sering membuka kedua tangan kita seraya menegaskan sebuah kejadian. Nah, ini sah-sah saja digunakan untuk melengkapi sebuah perdebatan.

Yang jadi soal adalah ketika bahasa tubuh kita ini kita alamatkan kepada pihak lawan seraya ingin menjatuhkan lawan sejatuh-jatuhnya.

Ini harus dihindari ya guys. Karena beberapa debat yang saya ikuti banyak dari tim lawan yang melakukan “tunjuk-menunjuk”, loncat-loncat, dan beberapa gerakan yang pada akhirnya menjatuhkan mereka sendiri. Hanya satu kuncinya, tempatkan gestur pada posisinya, jangan menyerang lawan secara vulgar dan gunakan secara profesional.

8. Doa dulu sebelum debat

The last but not the least. Ungkapan ini cocok menggambarkan mengenai doa. Meskipun di bagian akhir, tapi doa harus tetap diutamakan. Doa tidak hanya akan membawa suasana hati kita tenang. Secara immortality doa adalah jembatan penghubung komunikasi intensif dengan Tuhan.

Jangan pernah meremehkan kekuatan doa. Banyak mereka yang jatuh dalam debat, suasana hatinya tidak tenang, kacau dan tidak terstruktur dengan baik, karena mereka meremehkan kekuatan doa. Jadi berdoa dulu sebelum bertanding ya.

Nah, saya kira sekian dulu ya soal debat-mendebat ini, hehe. Tipsnya bersifat pribadi loh. Bisa digunakan bisa tidak. Semua kembali kepada khalayak. So, bagi yang suka debat, bisalah ini dijadikan referensi. Semoga bermanfaat ya guys. Terimakasih telah membaca

*Penulis penyuka humor, terkenal karena ketidaklucuan dan kegaringannya