Kamu Perlu Tahu: Tiga Masalah Utama Menuju Perguruan Tinggi di Indonesia

Setiap pelajar yang akan lulus dari SMA/sederajat akan dihadapkan pada situasi dimana ia harus memilih antara melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi atau mencari kerja.

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi adalah pilihan bagi calon – calon lulusan SMA sederajat.

Baca: Tamat SMA! KULIAH atau Kerja?

Kamu salah satu yang akan menerobos gerbang perguruan tinggi?

Nah, sebagai mahasiswa dan calon mahasiswa, kamu perlu tahu masalah – masalah pendidikan tinggi di Indonesia. Hal ini bermanfaat untuk menambah wawasan kamu tentang pendidikan tinggi dan memungkinkan kamu lebih bijaksana dalam menentukan pilihan masa depanmu.

Sobat, 3 masalah ini merupakan masalah utama menuju perguruan tinggi di Indonesia.

1. Hanya 30% lulusan SMA/sederajat yang bisa kuliah

Dari sekian banyak minat untuk kuliah, hanya sedikit yang mampu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Hal ini umumnya disebabkan karena kurangnya akses perguruan tinggi ke daerah – daerah, dan khususnya disebabkan karena mahalnya biaya kuliah dan masih sedikitnya beasiswa yang, sehingga beberapa dari pelajar yang lemah secara finansial menyerah sebelum bertanding.

Dilansir dari Tempo (7 Juni 2014), jumlah pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan tinggi hanya sebesar 30%,  juga sudah kalah jika dibandingkan dengan Korea dan Malaysia yang sudah mencapai 70%.

Ainun Naim, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengemukakan bahwa upaya membangun perguruan tinggi di daerah kabupaten akan digalakkan untuk meningkatkan persentase jumlah pelajar yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi.

Selain itu, Kementerian Pendidikan pada tahun 2014 juga meningkatkan jumlah penerima beasiswa Bidikmisi dari 150 ribu pelajar menjadi 160 ribu.

2. Biaya Kuliah Masih Dianggap Mahal

Biaya kuliah yang mahal mengakibatkan orientasi pelajar berpindah dari “Ingin Kuliah” menjadi “Langsung Bekerja” setelah lulus SMA/ sederajat.

5 Keuntungan yang Bisa Diperoleh dari Kegagalan

Masih banyak anggapan biaya kuliah mahal

Hal ini dapat tercermin dari fakta yang ada di Karawang (Sumber: Pikiran Rakyat, 27 Juni 2016), dari 23.000 pelajar SMA/sederajat yang ada di Karawang, hanya 6900 orang yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Baca: 5 Hal Penting tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT)

Bahkan kebanyakan warga Karawang hanya melanjutkan pendidikan hingga kelas 2 SMP. Mereka lebih memilih untuk langsung bekerja karena dengan bekerja, bisa langsung memperoleh uang. Sementara jika kuliah, harus mengeluarkan uang yang cukup besar terlebih dahulu.

Di lingkungan sekitar juga tidak jarang banyak opini yang memperdebatkan tentang pilihan untuk kuliah atau langsung bekerja. Banyak orang tua ini lebih menyarankan agar si anak langsung bekerja dan tidak perlu kuliah. Dengan kata lain, masih begitu rendah dukungan orang tua maupun minat anak untuk kuliah.

3. 87% Mahasiswa Salah jurusan

Salah Jurusan, Salah Arah

Harus diakui bahwa semakin bertambah tahun, semakin sukar pula kemungkinan untuk merebut bangku perguruan tinggi. Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mahasiswa memilih jurusan yang sedikit peminatnya dan banyak daya tampungnya tanpa mempertimbangkan minat dan bakat mereka.

Selain itu, banyak pelajar yang memilih jurusan tersebut karena didesak oleh keinginan orang tua mereka. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Endro Prasetyo (Sumber : Beritagar.id, 24/03/18), Ia mengungkapkan bahwa sebanyak 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan.

Baca: 7 Hal Yang Dapat Dilakukan Mahasiswa Jika Salah Jurusan

Data Youth Manual juga menunjukkan bahwa banyak anak yang mendaftar kuliah sesuai dengan jurusan yang diinginkan oleh orang tua mereka. Akibatnya, banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan gelar kelulusan yang mereka raih.

Mirisnya, masih banyak mahasiswa yang kembali mencoba jalur SBMPTN di tahun berikutnya dengan alasan tidak menikmati jurusan yang saat ini digelutinya.

Faktor bimbingan dan konsultasi jurusan juga memegang peranan penting dalam hal ini. Untuk merebut satu bangku perguruan tinggi, seseorang perlu mengetahui minat dan bakatnya sejak dini agar kelak tidak ada kata “Salah Jurusan”.


Masalah – masalah ini merupakan masalah utama menuju perguruan tinggi yang notabene-nya harus segera diselesaikan atau dicari solusinya. Pemerintah harus mengambil kebijakan yang nyata, begitu pula orang tua harus lebih memahami keinginan dan minat anaknya.

Dan yang terpenting, pelajar yang akan menyelesaikan pendidikan di SMA/sederajat harus memiliki semangat yang tinggi dan memiliki pertimbangan untuk masa depannya. Jika ingin kuliah fokuslah untuk memiliki wawasan tentang jurusan yang akan dipilihnya, agar kelak tidak menyesal.

Pendidikan Tinggi itu penting

Kuliah itu penting, bukan untuk mengejar gelar tapi untuk mencari ilmu.

Selain itu, dengan pendidikan tinggi, kita akan memiliki wawasan dan karakter yang lebih baik untuk menggubah diri kita terlebih dahulu.

Malcolm X mengatakan bahwa “Pendidikan adalah tiket ke masa depan”. So buat sobat mahasiswa dan calon mahasiswa, jangan ragu untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Hosting Unlimited Indonesia

Semoga kamu adalah salah satu pioneer yang membantu penyelesaian masalah pendidikan tinggi di Indonesia, sobat!