Menghidupkan Kembali Budaya Membaca

menumbuhkan kembali budaya baca

            Minat baca orang – orang Indonesia terbilang saat ini masih sangat rendah. Sebagaimana yang dikatakan Bambang Supriyo, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), bahwa rata-rata secara nasional, survei dari UNESCO menunjukkan tak sampai satu judul (buku) per orangnya per tahun. “Ini di luar buku pelajaran, tapi buku bebas,” kata dia, kepada wartawan, di Yogyakarta, Rabu (2/9/2015).

            Menilik pada beberapa negara ASEAN, negara kita masih berada pada strata yang memprihatinkan. Dalam hal ini kita katakanlah Malaysia. Setiap orang di Malaysia bisa menghabiskan tiga judul buku bacaan per tahunnya, kontradiktif dengan yang ada di Indonesia. Bahkan Indonesia menempati peringkat tiga terbawah, atau berada di atas Kamboja dan Laos terkait minat baca ini.

            Apa lagi untuk negara maju seperti Jepang. Bisa di atas lima sampai 10 buku per tahun per orangnya,” tuturnya.

            Kondisi ini sungguh memprihatinkan tentunya. Setali tiga uang dengan hal ini, sebagaimana berdasarkan indeks nasional, tingkat baca masyarakat kita hanya 0,01 persen. Sedangkan rata-rata indeks tingkat membaca di negara-negara maju berkisar antara 0,45 hingga 0,62 persen.

Baca: 10 Alasan Mengapa Kita harus Banyak Membaca

Ketersisihan Budaya Baca

            Data di atas semakin membuat kita semakin percaya bahwa dewasa ini kita sedang menghadapi suatu proses ketersisihan budaya baca dalam jumlah yang terbilang besar. Hal ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh menjamurnya budaya pragmatis di masyarakat kita yang lebih suka berselancar di dunia maya daripada membawa buku-buku yang berat dan berbobot.

            Masyarakat kita dewasa ini memandang bahwa budaya membaca cenderung monoton dan lebih susah dicerna oleh masyarakat kita, apalagi pada tataran sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang lebih suka menggunakan handphone daripada menghabiskan waktu selama 2 jam untuk mengunyah satu buku.

            Alhasil yang terjadi bukanlah kecerdasan cendekia yang didapatkan, akan lahirlah manusia yang pragmatis yang menggunakan segala macam skema ketika tugas datang yang menggunakan filosofi copas (copy paste) bulat-bulat dari internet tanpa mau membumbuinya dengan pemikiran kita yang kita dapat dari membaca.

            Apalagi pada tataran mahasiswa, budaya membaca ini tampaknya juga semakin tersisih mengingat semakin menjamurnya budaya copas yang melahirkan mahasiswa kaliber abal-abal. Alih-alih ingin melahirkan generasi yang cerdas, yang ada setelah tamat kuliah, mahasiswa-mahasiswa ini tidak tahu mau berbuat apa, melakukan apa dan yang lebih parah tidak tahu apa-apa.

Baca: 10 Situs Download e-Book Gratis dan Legal

            Berangkat dari sini, korelasi yang bisa kita lihat adalah, tampilnya ragam-ragam ketersisihan budaya baca perlahan-lahan akan semakin mengubur tujuan bangsa ini yang termuat dalam UUD 45 yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bagaimana pula kita ingin membuat cerdas bangsa ini bila keseriusan kedua belah pihak yakni pemerintah dan masyarakat mengalami suatu ketidakserasian hubungan.

            Kita tahu pemerintah tidak tinggal diam dalam hal ini. Ada beberapa usaha yang juga sudah dilakukan. Dalam hal ini kita katakanlah pemerintah memiliki itikad baik dalam mengembangkan budaya baca, meskipun masih terbilang kecil dan hanya menyentuh beberapa orang dan bersifat parsial. Ke depan, pemerintah perlu menggenjot budaya baca dengan memperbanyak kegiatan membaca, baik di sekolah maupun di rumah, hingga pengadaan sarana dan prasarana seperti penyediaan buku-buku bacaan dan pelajaran, baik di perpustakaan daerah, maupun memperbanyak taman-taman bacaan masyarakat.

Terkhusus kepada masyarakat, terutama bagi generasi muda, hendaknya juga mengurangi aktivitas berselancar di dunia maya agar tidak terjadi degradasi pemikiran dan daya nalar dalam jumlah yang akut. Batasan ini di kehendaki mengingat, membaca justru melahirkan budaya kritis dan nalar yang lebih kuat.

            Relasi yang mesra demikian, perlahan tapi pasti akan menghantarkan negara ini pada satu titik dan tujuan yang termuat dalam UUD 45 tersebut. Perlu diperhatikan sekarang ini adalah keseriusan pemerintah dalam mendorong minat baca masyarakat mutlak diperlukan. Sebab, kondisi yang sudah “mengakar’ dan membudaya akan rendahnya minat baca ini harus dilakukan perbaikan. Pemerintah harus proaktif mengajak masyarakat untuk gemar membaca.

            Dalam hal ini kita katakanlah upaya mendorong peningkatan produksi jumlah buku. Saat ini, angka produksi buku di Indonesia juga terbilang rendah. Setiap tahun, hanya berkisar 7000-8000 judul buku yang diterbitkan. Jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang memproduksi hingga 10 ribu judul buku setiap tahunnya.

            Angka itu semakin tampak memprihatinkan bila dibandingkan dengan Jepang yang mampu menerbitkan 44 ribu judul buku per tahun, Inggris 61 ribu judul per tahun, dan Amerika Serikat yang sampai 100 ribu judul buku per tahun.

            Kurangnya jumlah buku yang beredar di masyarakat juga berimplikasi pada rendahnya minat baca masyarakat kita. Artinya, jika diakumulasikan, satu buku dibaca oleh tujuh orang warga negara Indonesia. Sungguh memprihatinkan.

            Apa artinya semua ini, ini yang kita cita-citakan itu? Bagaimana bisa kita mencerdaskan masyarakat Indonesia bila budaya baca saja sangat rendah? Bagaimana masyarakat bisa mau membaca bila di perpustakaan jumlah buku yang tersedia kurang? Dan bagaimana pula dengan produksi buku yang begitu rendah saat ini?

            Dalam hal ini kita patut mengelus dada, pasalnya alih-alih ingin merealisasikan hal-hal yang ada di atas. Anggaran pendidikan yang 20 persen itu saja dalam implementasi di lapangan masih terjadi tarik ulur yang luar biasa bobroknya. Masih banyak kita lihat anak-anak yang harus menantang maut untuk bersekolah dengan melewati jembatan gantung yang hampir mau putus atau bergelantungan pada tali-tali yang sewaktu-waktu bisa saja putus. Di lain sisi, para pejabat malah asyik memakan anggaran ini untuk keperluan sendiri. Sungguh suatu ironi di negara yang kaya raya ini.

Menumbuhkan Budaya Baca

            Pemerintah harus bisa mengatasi ini semua, dan lebih peduli dalam menumbuhkan minat baca masyarakat demi mencerdaskan anak-anak bangsa. Upaya-upaya yang bisa dilakukan antara lain, meningkatkan ketersediaan buku di perpustakaan dan memperbanyak taman bacaan masyarakat, meningkatkan promosi dan sosialisasi gemar membaca serta menyediakan buku-buku bacaan yang murah dan berkualitas melalui pameran buku.

            Selain itu juga bisa dilakukan dengan memulai dari diri sendiri dan kemudian memotivasi setiap anggota keluarga untuk gemar membaca, juga para guru perlu memberikan teladan pada siswanya untuk juga gemar membaca.

            Ada satu yang tidak boleh dilewatkan, para orang tua sedari dini juga harus mengajak anak-anaknya untuk gemar membaca. Agar di kala ia beranjak menuju tahap yang lebih berat dapat memproteksi setiap ancaman yang datang padanya.

            Dengan demikian, harapan kita semua adalah upaya-upaya yang dilakukan di atas dapat meningkatkan budaya baca masyarakat kita. Sehingga kita bisa mencapai tujuan dan cita-cita luhur kita yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga.

*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik 2014 FISIP USU dan Pemerhati Pendidikan serta Sosial/Politik