Setelah menonton serial drama korea SMA, mulai dari School 2017, School 2015, sampai School 2013, drakor yang menurut saya paling mengesankan adalah School 2013.

School 2013 mengisahkan kehidupan di dunia sekolah yang selalu penuh dengan konflik, baik itu di kalangan murid maupun guru.

Berbeda dengan School 2015 yang mengisahkan tentang perundungan/bullying di sekolah dan School 2017 yang menceritakan tentang sistem pendidikan yang korup, School 2013 lebih menunjukkan peran seorang guru di sekolah.

Drama ini murni hanya fokus di dunia persekolahan sehingga tidak ada kisah romantisme di dalamnya. Jika School 2015 dan School 2017 memiliki kisah romantisme, School 2013 malah memiliki banyak adegan perkelahian murid.

Singkatnya, School 2013 menceritakan tentang sebuah sekolah SMA bernama Seungri High School yang memiliki peringkat terendah di antara SMA-SMA lainnya.

Kelas 2-2 di sekolah itu adalah kelas yang paling bermasalah, entah itu perkelahian, saling tuduh-menuduh, protes dari orang tua, kehilangan barang, sampai kejadian sebuah kursi terjatuh dari jendela kelas tersebut.

Drakor ini dibintangi oleh Jang Na Ra (sebagai Jeong In Jae) dan Daniel Choi (sebagai Kang Se Chan) yang berperan sebagai guru sekaligus wali kelas 2-2. Kemudian, ada Lee Jong-Suk (sebagai Ko Nam Sun) dan Kim Woo Bin (sebagai Park Heung Soo) yang berperan sebagai murid. Selain itu, masih ada banyak pemeran lainnya.

Cerita drakor ini bermula dari Seungri High School yang merekrut seorang guru terkenal di Gangnam bernama Kang Se Chan, untuk meningkatkan nilai-nilai murid yang merosot.

Kang Se Chan kemudian diminta untuk menjadi wali kelas 2-2, bersama Jeong In Jae. Setelah itu, barulah berbagai konflik dan perbedaan pandangan muncul.

Apa yang hendaknya menjadi prioritas di dunia pendidikan? Apakah nilai adalah yang terpenting di sekolah?

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari drama ini, baik itu untuk guru, murid, maupun orang tua murid. Tapi, yang menjadi fokus pada drama ini adalah sosok seorang guru.

Kita bisa menilai bagaimana sosok Jeong In Jae dan Kang Se Chan sebagai wali kelas.

1. Karakter & Pengembangan Diri Murid adalah Prioritas Guru

Jeong In Jae adalah sosok guru yang sabar dan sangat memperhatikan muridnya. Ia sering melakukan konseling dengan setiap muridnya, untuk melihat apakah murid itu memiliki kendala belajar atau masalah pribadi.

Bahkan, ia tetap kuat menghadapi Oh Jeong Ho, murid yang berlagak preman, kasar, dan selalu tidur di kelas.

Di sisi lain, Kang Se Chan memiliki cara mengajar yang berbeda dengan In Jae. Se Chan tidak terlalu peduli dengan pribadi masing-masing murid, melainkan hanya fokus pada akademis/nilai murid.

Jeong In Jae dan Kang Se Chan

Jeong In Jae (kiri) dan Kang Se Chan (kanan) sebagai guru dan wali kelas 2-2 | Sumber: evinurulhidayati.blogspot.com

Pada awal masa pengajaran, In Jae membagikan formulir biodata diri kepada murid yang juga berisi apa cita-cita dan motivasi muridnya. Jelas ini membuat In Jae bisa mengenal muridnya lebih dalam dulu.

Berbeda dengan Se Chan, ia membagikan formulir yang meminta murid untuk membuat skema rencana belajarnya.

Karena In Jae dan Se Chan sama-sama merupakan wali kelas 2-2, mereka pun sering berdebat mengenai cara mendidik murid dan metode pengajaran. Pada akhirnya, kita akan melihat siapa yang akan mengikut siapa.

Sosok guru mana yang patut dicontoh? In Jae tetap lebih mementingkan karakter muridnya, meskipun sudah ditegur oleh kepala sekolah karena nilai muridnya sangat rendah.

Intinya, nilai tidak akan menentukan dimana kita akan berpijak ke depannya, melainkan mimpi, tujuan hidup, dan bagaimana kita berperilaku.

2. Totalitas Seorang Guru

Bukan hanya di lingkungan sekolah, In Jae juga merasa bertanggungjawab atas murid-muridnya yang berkelahi di luar sekolah, sampai harus berurusan dengan polisi.

Ketika Oh Jeong Ho tidak datang ke sekolah beberapa hari, In Jae tetap menghubunginya dan mendatangi rumahnya.

Ketika murid lainnya, Kim Min Ki, hendak bunuh diri karena tekanan dari orang tua, In Jae pun langsung mengajaknya konseling, mengantarkannya pulang ke rumah, dan menelepon orang tua Min Ki.

Masih banyak lagi scene In Jae yang menjadikan ia guru panutan. Apa yang ditunjukkan oleh In Jae adalah totalitas dari seorang guru.

Karakter dan pengembangan diri murid adalah tanggung jawab guru, baik di dalam maupun di luar sekolah. Tetapi, peran orang tua di rumah juga sama pentingnya.

Baca Juga: 7 Film yang Wajib Ditonton Mahasiswa

3. Pentingnya Eksperimen Bagi Seorang Guru

Saat In Jae sedang mengajar di kelas, ia melihat beberapa siswanya yang ngantuk dan tidur. Karena itu, di kelas selanjutnya, ia pun mengubah metode pengajarannya menjadi semacam kelompok belajar.

Satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi tentang suatu topik. Metode itu pun membuat muridnya menjadi aktif di kelas dan tidak ngantuk.

Jadi, guru juga perlu bereksperimen untuk mengetahui metode mengajar mana yang ampuh untuk murid-muridnya.

4. Menjaga Persahabatan

Setelah membahas tentang guru, kini beralih ke murid.

Ko Nam Sun adalah ketua kelas 2-2. Dulu, ia adalah seorang preman gangster yang sering berkelahi. Ketika sahabatnya, Park Heung Soo, ingin keluar dari gangster tersebut, Nam Sun memukulnya hingga kaki Heung Soo patah.

Hal itu membuat mimpi Heung Soo menjadi seorang pesepakbola pun menjadi kelam. Persahabatan mereka menjadi rusak.

Park Heung Soo (kiri) dan Ko Nam Sun (kanan) | Sumber: asianwiki.com

Setelah pindah ke Seungri High School, Nam Sun sudah bertobat. Namun, setelah 3 tahun, ia kembali berjumpa dengan Heung Soo yang juga pindah ke Seungri High School.

Nam Sun merasa bersalah dan terus meminta maaf kepada Heung Soo. Berbagai cara dilakukan oleh Nam Sun agar Heung Soo memaafkannya.

Artinya, hubungan pertemanan yang kita jalin haruslah dijaga dengan baik. Bersedia memaafkan orang lain juga merupakan sikap ikhlas yang dapat mengurangi tekanan batin kita.

Dari sosok Nam Sun, kita juga bisa melihat bahwa tidak ada kata “terlambat” untuk berubah menjadi orang yang lebih baik.

5. Murid Berhak Menentukan Jalannya Sendiri

Kim Min Ki adalah murid yang kerap mendapatkan banyak tekanan dari orang tuanya.

Ibunya ingin Min Ki tetap memiliki nilai yang tinggi dan menjadi juara di kelas supaya bisa masuk ke universitas ternama. Min Ki juga diminta mengambil jurusan kuliah yang ditentukan oleh ibunya.

Saat nilai Min Ki menurun, meskipun hanya 0,5 poin, Min Ki pun dimarahi oleh orang tuanya. Bahkan, saat Min Ki hendak mengikuti lomba esai, ibunya memberikan bocoran pertanyaan esai kepada Min Ki supaya bisa memenangkan lomba itu.

Lama kelamaan, Min Ki merasa tidak nyaman. Banyaknya tuntutan dari ibunya membuat Min Ki sempat ingin bunuh diri di sekolah.

Namun, setelah ibunya mendengar kabar tersebut dari In Jae, ibunya pun membebaskan Min Ki untuk memilih jurusan kuliah yang ia inginkan.

Setiap murid hendaknya diberikan kebebasan untuk memilih apa yang mereka inginkan dalam hidup, apakah itu cita-cita, jurusan kuliah, maupun karir. Orang tua dan guru hanya perlu mengawasi perjalanan muridnya.

6. Berhenti Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Inilah pelajaran yang terakhir. Song Ha Qyeong adalah murid berprestasi di Seungri High School. Pada saat pengumuman lomba esai di sekolah, yang menjadi juara adalah Lee Gang Ju yang merupakan sahabatnya sendiri. Hal itu membuat Song Ha Qyeong merasa iri.

Jeong In Jae pun memberitahu Ha Qyeong “Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Lakukanlah yang terbaik yang kamu bisa.”

Membandingkan diri kita dengan orang lain hanya akan menambah banyak tekanan dan pikiran pada diri kita. Jika ada hal yang tidak sesuai ekspektasi, maka pikiran kita akan merasa kacau, seakan-akan apa yang kita lakukan tidak berarti. Kita menjadi tidak bersyukur dengan apa yang kita terima.


Baca Juga: Mengupas Makna Pendidikan Sebenarnya Lewat Film Edukasi 3 Idiots

Itulah 6 pelajaran berharga dari drama korea School 2013 untuk para guru, murid, dan juga orang tua.

Pada intinya, nilai akademis bukanlah jaminan seorang murid akan sukses ke depannya. Karakter dan pengembangan diri murid adalah yang terpenting dan harus diprioritaskan oleh guru. Itulah arti sebenarnya dari pendidikan, menghasilkan lulusan yang berperilaku baik serta memiliki arah dan tujuan yang ingin dicapai.