Hai, Sobat Mahasiswa di seluruh Indonesia!

Menyandang status sebagai mahasiswa membuat kita biasanya terlibat dalam berbagai kegiatan.

Tak jarang sebagai sebuah kelompok mahasiswa juga memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal tertentu. Kecenderungan ini sering menjadi tren di kalangan mahasiswa itu sendiri.

Tren atau gaya mutakhir di kalangan mahasiswa tidak selamanya positif. Bahkan, terdapat tren yang justru sebaiknya dihindari karena tidak membawa manfaat apabila terus menerus dilakukan.

Agar kamu tidak menggunakan waktu dan kesempatanmu sebagai mahasiswa pada hal yang sia-sia, simak tren gaya hidup merugikan mahasiswa yang harus dihindari!

1. Demo tanpa Mengetahui Substansi

Aksi demonstrasi atau biasa disebut demo memang identik dilakukan oleh kelompok mahasiswa. Demo dinilai sebagai ajang menyuarakan aspirasi rakyat, termasuk mahasiswa sebagai bagian darinya.

Gaya Hidup Mahasiswa yang Merugikan_1
Sumber gambar: tirto.id

Di Indonesia sendiri, demo oleh mahasiswa telah dilakukan sejak 1966 yang mana  kala itu mahasiswa menuntut kondisi negara yang memprihatinkan sebagai hulu tragedi Gerakan 30 September 1945 (G30S/PKI).

Demonstrasi dapat dimaknai sebagai pernyataan protes yang dikemukakan secara massal.

Definisi tersebut menjelaskan bahwa terdapat perihal yang tidak disetujui oleh rakyat untuk disampaikan kepada pihak yang seharusnya bertanggung jawab dalam hal ini pemerintah.

Dengan demikian, sangat penting untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dituntut dan alasan dibalik terjadinya protes.

Meskipun demikian, kita dapat melihat bahwa demo-demo besar yang dilakukan mahasiswa ternyata tidak luput dari peserta yang asal ikut tanpa mengetahui apa yang diperjuangkan, misalnya saat demontrasi UU Cipta Kerja.

Padahal, sudah seharusnya berpikir kritis menjadi atribut yang dimiliki mahasiswa yang mestinya juga digunakan untuk mengkritisi substansi demonstrasi.

Berempati dan turut memperjuangkan ketidakadilan memang patut diapresiasi. Namun, jika substansi saja tidak mengerti bukannya hanya buang-buang waktu dan energi?

Baca juga: Sudah jadi Mahasiswa ? 10 Kebiasaan Buruk Ini Perlu Kamu Ubah !

2. Ikut Organisasi atau Kepanitiaan hanya Karena Orang Lain

Gaya Hidup Mahasiswa yang Merugika_2
Sumber gambar: job-like.com

Salah satu cara paling ampuh untuk bersosialisasi di lingkungan kampus adalah dengan mengikuti kepanitiaan. Menjadi kepanitiaan sendiri memang seru karena mudah mendapatkan pengalaman serta relasi.

Akan tetapi, pernah ngga sih melakukan sesuatu karena orang lain, misalnya teman, juga melakukannya?

Padahal sebenarnya kita tahu kalau di dalam lubuk hati kita ngga ada tujuan spesifik atau motivasi yang kuat terhadap apa yang diikuti orang lain, salah satunya mengikuti organisasi atau kepanitiaan.

Bukan berarti kita tidak boleh terinspirasi dari orang lain, melainkan kita juga harus mempertimbangkan nilai-nilai dan prinsip diri kita sendiri.

Berbeda dengan kepanitiaan wajib, mahasiswa harus berani untuk lebih mandiri dalam menentukan pilihan kepanitiaan yang memang diminati.

Adanya minat dan motivasi instrinsik diharapkan mampu membuat mahasiswa lebih terarah dan berani berkomitmen.

Tujuan dan tekad yang kuat membuat kita tidak mudah goyah meskipun orang di samping kita mungkin saja telah menyerah.

Dengan demikian, waktu dan energi yang digunakan untuk berorganisasi dan mengikuti kepanitiaan tidak terbuang percuma. Bahkan sangat memungkinkan kita untuk menemukan jati diri.

3. Nongkrong Unfaedah Berkedok Sosialisasi

Cara paling umum yang lain bagi mahasiswa untuk bersosialisasi adalah dengan kongkow-kongkow sambil nongkrong.

Sangat dapat dipahami bahwa mahasiswa membutuhkan hiburan bahkan dengan low budget sekalipun, salah satunya yakni dengan nongkrong.

Berkumpul dengan orang se-frekuensi sembari makan memang sangat menyenangkan, bukan?

Akan tetapi, sekali lagi bahwa mahasiswa juga harus kritis dan teliti untuk memanfaatkan waktu. Berapa lama waktu yang digunakan untuk kumpul-kumpul? Apakah ada manfaat atau justru kegiatan yang awalnya untuk mencari hiburan ini melenceng dari tujuan awal bahkan cenderung merugikan?

Jika dengan nongkrong justru tidak memberi faedah apapun atau malah membuat kita lalai dari kewajiban misalnya tidak menyelesaikan tugas, jadwal terganggu, atau bahkan tidak masuk kuliah.

Ada baiknya kita mengevaluasi kembali sumber penghiburan diri berupa nongkrong ini.

Baca juga: 8 Tipe Gaya Hidup Mahasiswa di Dunia Perkuliahan

4. BPJS (Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita)

Gaya Hidup Mahasiswa yang Merugikan_3
Sumber gambar: unsplash.com

Erat kaitannya dengan nongkrong-nongkrong nih!

Kumpul-kumpul-nya mahasiswa tidak selamanya low budget bahkan sering “diselenggarakan” di tempat-tempat yang lagi hits.

Kadang kala pula bosen nugas di kampus dan di kost yang membuat mahasiswa memanfaatkan kesempatan setali tiga uang, tugas kelar dan hiburan dapat!

Hal ini sebenarnya ngga menyalahi aturan apapun kecuali kamu bertanya pada dompet kamu, “kuat ngga?”

Kalau memang lagi krisis dan kamu nekat nongkrong ataupun mengerjakan tugas di tempat yang membuat dompetmu menjerit berarti ada yang perlu diteliti lagi.

Coba kaji ulang, apakah tempat kamu mengerjakan tugas sangat memengaruhi hasil tugasmu?

Kalau memang harus di tempat yang bisa untuk nugas dan nongkrong, baiknya kamu mencari alternatif tempat yang bisa kamu sesuaikan dengan budget-mu.

Selain itu, kita sebagai mahasiswa juga perlu memiliki prinsip kuat dan mampu menentukan prioritas dengan baik.

Selalu perhatikan gaya hidup yang dijalani, apakah sehat atau ada hal-hal mengganjal yang sebenarnya kita tahu harus dievaluasi.

Tidak perlu terus mengikuti gaya hidup orang lain dan tren yang membuat kamu sebagai mahasiswa tersiksa. Jadi dirimu sendiri tanpa ragu.

Baca juga: 6 Tips dan Trik Hidup Hemat Ala Anak Kos Kekinian

5. Sistem Kebut Semalam (SKS)

Berhubungan dengan akademis maka tak asing dengan Sistem Kebut Semalam alias SKS.

Mahasiswa dengan berbagai kegiatannya atau bahkan rasa malasnya seringkali mempraktikkan cara kilat ketika harus menempuh tantangan akademik, seperti kuis maupun ujian.

Walaupun banyak yang mengaku berhasil, nyatanya implementasi SKS memiliki banyak dampak negatif yang harus diperhatikan, beberapa di antaranya yakni: kurang tidur, sulit konsentrasi, otak panik/lelah, tingkat stress meningkat, cepat lupa dengan materi, hingga tidak percaya diri.

Melihat banyaknya dampak negatif dari SKS, baiknya membuat kita mempertimbangkan kembali bagaimana kita mengelola waktu dan energi serta menyusun prioritas dengan lebih seksama.

Mungkin kita bisa merefleksikan pesan Sir George Allen bahwa, “Kemenangan adalah suatu keahlian dalam mempersiapkan segala hal semaksimal mungkin.”

Nah, itu tadi empat gaya hidup mahasiswa yang harus dihindari!

Semoga Sobat Mahasiswa bisa selalu memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan cara yang paling baik, ya!

Penulis: Septiana Noor Malinda
Mahasiswi Universitas Gadjah Mada

*Artikel ini dituliskan berdasarkan referensi terpercaya dan situs media online yang valid seperti tirto.id, rri.co.id, haloedukasi.com dan sebagainya