Ibarat ketika orang ingin membangun rumah, orang tersebut harus terlebih dahulu menyediakan kapling tempat rumah itu akan berdiri. Sama seperti mendirikan sebuah negara, perlu suatu “kapling” yang menjadi dasar berdirinya sebuah bangsa dan negara.

Bangsa Indonesia mempunyai dasar negara tersendiri sekaligus ideologi (pandangan hidup bangsa) yaitu Pancasila.

Tentu tidak asing lagi, kita sebagai warga negara Indonesia, mendengar istilah Pancasila. Akan tetapi, yang menjadi masalah bagi negara kita saat ini adalah pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

Meskipun kita sudah belajar tentang Pancasila saat menempuh pendidikan, masih ada saja kelalaian dalam pengamalannya.

Konflik horizontal antar masyarakat berupa peristiwa intoleransi masih saja terjadi. Inilah mengapa artikel ini ditulis, dengan tujuan untuk menekankan betapa pentingnya Pancasila dalam kehidupan kita.

Sejarah Lahirnya Pancasila

Pancasila tidaklah lahir begitu saja pada tahun 1945, melainkan melalui proses perjuangan tokoh-tokoh sejarah dan juga dengan melihat pengalaman bangsa lain.

Proses perumusan konseptualisasi Pancasila setidaknya dimulai sejak awal 1900-an. Berbagai gagasan bermunculan untuk mencari sintesis antara ideologi dan gerakan sebagai kode kebangsaan bersama.

Berbagai organisasi pergerakan kebangkitan seperti Boedi Oetomo, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Perhimpunan Indonesia, partai politik seperti Indische Partij, PNI, PSSI, dan sumpah pemuda bermunculan sebagai tanda proses perumusan Pancasila dalam upaya kemerdekaan Indonesia.

Pidato Soekarno

Perumusan konseptualisasi Pancasila dimulai pada tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 sebagai persidangan pertama oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Anggota-anggota BPUPKI menyampaikan gagasan mereka tentang dasar negara Indonesia Merdeka. Kemudian sidang ditutup oleh Ir. Soekarno dengan pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 yang menyampaikan 5 prinsip dasar negara yang disebut Pancasila.

Ir. Soekarno berhasil mensintesiskan berbagai gagasan yang muncul dan mengonseptualisasikan 5 prinsip tersebut ke dalam pengertian “dasar falsafah” (philosofische grondslag) atau “pandangan komprehensif dunia” (weltanschauung).

Pemikiran Soekarno tersebut diterima oleh BPUPKI sebagai dasar dalam penyusunan falsafah negara.

Lima prinsip dari Ir. Soekarno tersebut yaitu kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau peri-kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan.

Piagam Jakarta

BPUPKI kemudian membentuk Panitia Delapan di bawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertugas mengumpulkan usul-usul para anggota yang akan dibahas pada sidang berikutnya (10-17 Juli 1945).

Panitia Delapan mengumpulkan dan memeriksa usul-usul terkait masalah-masalah berikut: Indonesia merdeka selekas-lekasnya, dasar negara, bentuk negara Uni atau Federasi, daerah negara Indonesia, Badan Perwakilan Rakyat, Badan Penasihat, bentuk negara dan kepala negara, soal pembelaan, soal keuangan.

Ir. Soekarno kemudian membentuk Panitia Sembilan yang bertugas menyelidiki usul-usul mengenai perumusan dasar negara dan rancangan pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Rancangan pembukaan tersebut disetujui pada tanggal 22 Juni 1945 yang dinamai Mukaddimah oleh Soekarno dan Piagam Jakarta oleh Moh. Yamin.

Rumusan Final Pancasila

Pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), setelah Moh. Hatta berdiskusi dengan tokoh-tokoh lain, mengubah bagian akhir Piagam Jakarta tepatnya kalimat “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” karena adanya keberatan dari wakil-wakil Protestan dan Katolik yang merupakan bagian dari Angkatan Laut Jepang.

Itulah sejarah perjalanan lahirnya Pancasila, mulai dari pidato Ir. Soekarno 1 Juni 1945, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan pada akhirnya rumusan yang disepakati secara final pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI.

Sebagaimana terdapat pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945, butir-butir final yang terdapat dalam Pancasila adalah:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
  3. Persatuan Indonesia,
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pancasila adalah nilai kehidupan, ideologi, dan pedoman yang dimiliki dan harus dilaksanakan oleh segenap bangsa Indonesia.

Ir. Soekarno menyebutkan bahwa philosofische grondslag itulah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat, yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.

Pengamalan Pancasila

Melihat keadaan bangsa kita saat ini, Pancasila belum sepenuhnya dilaksanakan oleh seluruh elemen bangsa dan bahkan ada yang cenderung menolak ideologi ini, alias anti-Pancasila. Kita harus benar-benar menjaga philosofische grondslag kita ini dari orang-orang yang ingin memusnahkannya atau menggantinya dengan sistem negara yang lain.

Pancasila adalah jalan pemersatu seluruh warga Indonesia, tidak peduli seseorang dari suku ini, etnis ini, agama ini, atau golongan ini.

Pancasila adalah penjaga kemajemukan bangsa. Jika ideologi ini dilaksanakan oleh seluruh warga Indonesia, perdamaian, kerukunan, dan toleransi akan muncul menyelimuti negara ini dari Sabang sampai Merauke.

Pancasila dapat menghasilkan manusia Indonesia yang bermoral, saling membantu, saling menghormati, saling menghargai, dan saling menciptakan kerukunan.

Para pendiri bangsa melihat warga negara Indonesia sangatlah beragam dan keberagaman ini harus dijaga dengan baik. Inilah mengapa mereka merumuskan Pancasila yang dapat mempersatukan seluruh warga tanpa memandang suku, etnis, agama, dan golongan.

Keberagaman adalah suatu berkah bagi bangsa kita. Kebhinnekaan adalah sesuatu yang indah. Bayangkan saja pelangi yang memiliki 7 warna tetapi warna-warna tersebut tidak menutupi satu sama lain. Di sinilah arti dari toleransi dan kerukunan.

Marilah kita semua bersatu. Marilah kita implementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kita semua berbeda-beda, tetapi dalam konteks kemanusiaan kita semua adalah sama, sama-sama manusia, dan sama-sama warga Indonesia.

Pengamalan Pancasila diharapkan dapat mewujudkan cita-cita bangsa yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Baca: 10 Alasan Mengapa Kita Harus Banyak Membaca