Titip absen bukan merupakan hal yang asing lagi bagi mahasiswa. Walaupun seorang mahasiswa tidak ikut perkuliahan (dengan sejumlah alasan), dia tetap dinyatakan hadir dengan di-absen oleh temannya.

Itulah kebiasaan yang sering dilakukan mahasiswa yang malas kuliah. Pertanyaannya adalah apakah hal tersebut bisa ditolerir dan dianggap benar? Jawabannya pasti tidak tetapi masih saja dilakukan.

Ada beberapa dampak (negatif) yang akan mempengaruhi kehidupan mahasiswa di masa yang akan datang seperti di dunia kerja, menjadi pejabat, dan lain-lain.

Ketidakjujuran

Tidak bisa terbantahkan lagi bahwa titip absen adalah bentuk ketidakjujuran yang rentan tertanam di dalam diri mahasiswa.

Meskipun kita jujur dalam melakukan hal yang lain tetapi masih titip absen, tetap saja masih ada sifat ketidakjujuran dalam diri kita.

Menjadi Malas

Menjadi Malas Akibat Titip Absen

Semakin sering mahasiswa titip absen, kemungkinan semakin meningkat pula rasa malas seorang mahasiswa.

Misalnya, ketika jam kuliah di pagi hari, kita masih keenakan golek-golek di kasur dan pada akhirnya meminta teman untuk di-absen.

Jika terus dibiarkan, maka rasa malas tidak akan pernah hilang.

Ketinggalan Pelajaran

Jika sudah tidak masuk kuliah, dengan alasan yang dibuat-buat, otomatis kita sudah ketinggalan pelajaran.

Konsekuensi yang bakal kita dapat adalah ketika menghadapi ujian dan kita tidak tahu apa-apa. Jika tidak tahu apa-apa, mungkin kita berniat untuk menyontek. Jika sudah menyontek, maka sama saja kita tidak jujur.

Selain itu, ketinggalan pelajaran sudah membuat kita tidak mendapat ilmu yang seharusnya kita dapat dari dosen kita.

Bibit Korupsi

Sebuah tindak korupsi bisa bermula dari hal-hal yang kecil, termasuk kebiasaan titip absen pada saat kita menjadi mahasiswa.

“Jangan bayangkan mereka hari ini dengan sejumlah ketidakdisiplinannya, tapi bayangkan 20 tahun atau 25 tahun ke depan. Mereka akan menjadi pemimpin. Oleh sebab itu, harus dimasukkan pesan-pesan antikorupsi,” kata Saut Situmorang, Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Jadi, jangan pernah meremehkan dampak dari titip absen meskipun kita belum merasakannya saat ini.

Cenderung Menganggap Titip Absen Hal yang Benar

Jika titip absen terus saja kita lakukan, lama-kelamaan kita akan menganggap hal tersebut sebagai hal yang benar dan lumrah.

Sering kali kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tanpa usaha yang benar. Kita cenderung membolehkan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan.


Sebagai mahasiswa, kita harus memelihara dan mengembangkan jiwa integritas. Jika tidak, istilah “mahasiswa sebagai agent of changetidak ada lagi artinya dan akan menjadi angan-angan saja.

Jika kita sering teriak-teriak antikorupsi tetapi masih saja titip absen, apa kata dunia dan kita akan ditanya “anda sehat?”.

Jika kita terus melakukan hal-hal salah yang kecil, lama-lama hal itu akan tumbuh menjadi dampak besar di kemudian hari.

Jadi, bagi semua mahasiswa yang malas-malasan dan sering titip absen, bertobatlah dan ubah kebiasaan kita menjadi perilaku yang jujur.

Jika kita sakit atau izin, jangan sesekali titip absen. Asalkan kita memiliki alasan yang jelas, kita bisa memberikan surat keterangan sakit atau surat izin kepada dosen supaya tidak dinyatakan absen.

Jika kita memang lagi malas kuliah, tetaplah bersikap jujur dan rela kehadiran kita dicoret.

Integritas adalah salah satu hal yang utama bagi mahasiswa. Jika kita bersikap jujur, maka orang lain pun menghargai kita.

STOP TITIP ABSEN !!!

Baca: Pesan-Pesan untuk Kamu Sebagai Mahasiswa