Toba Writers Forum (TWF) akhirnya dideklarasikan pada Minggu, 18 September di Sopo Marroha, Menteng-Medan. TWF sudah kurang lebih 3 tahun berdiri. Tetapi pada masa itu, TWF masih antara ada dan tidak ada.

Namun, pada 3 bulan terakhir, TWF sudah mulai rutin mengadakan pertemuan dan diskusi, seperti bedah dan kritik tulisan dengan sesama anggota. Tulisan yang dibedah adalah tulisan yang sudah dimuat di media cetak pada rentang waktu dua minggu sebelum masing-masing diskusi dilakukan.

Pada masa diskusi itu, Thompson Hs selaku Direktur PLOt menyuarakan TWF dideklarasikan agar menjadi komunitas yang hidup.

Hal ini kemudian disahuti dengan baik oleh anggota yang juga penulis-penulis muda, seperti Riduan Situmorang, Freddy Nababan, Firman Situmeang, Fajar Anugrah Tumanggor, Partahanan Simbolon, Niko Adriano Hutabarat, dan Parno Mahulae. Maka, pada pertemuan selanjutnya, di samping bedah tulisan, sesama anggota mulai mencari cara untuk meneguhkan pendeklarasian. Mulai dari mengumpulkan dana.

toba writers forum

TWF murni komunitas dan kekeluargaan. Bukan politis, apalagi bisnis. Sebab, dana-dana berasal dari kantong pribadi sesama anggota.

Caranya, jika tulisan diterbitkan, maka 10% honornya akan diberikan ke kas TWF. Pada deklarasi ini, diadakan juga Workshop “Aku Menulis, maka Aku Ada”. Pembicaranya adalah Thompson Hs (PLOt), Jones Gultom (redaktur Medan Bisnis), dan Freddy Nababan (guru Chandra Kusuma School) serta dimoderatori oleh Riduan Situmorang.

Baca: 

Dalam paparannya, Thompson Hs, Jones Gultom, dan Freddy Nababan bermuara pada titik simpul bahwa literasi, apalagi untuk anak muda harus digalakkan. Literasi bukan alat politik, tetapi alat keabadian.

Senada dengan itu, dalam sambutannya, Firman Situmeang dan Fajar Tumanggor juga mengatakan bahwa menulis adalah mengukir langkah, bahwa seribu langkah selalu bermula dari langkah pertama.

Adapun peserta workshopnya adalah mahasiswa dan penulis-penulis muda dari #USU dan #Unimed. Peserta terlihat sangat antusias dan beberapa sudah menyatakan ikut pada komunitas TWF dengan semangat untuk berkarya dan berdiskusi, bukan berorganisasi karena TWF bukan bukan “bersemangat” organisasi.

Deklarasi ini diadakan di Sopo Marroha, Jalan Menteng VII No.35 D pada 18 September 2016 dan diawali dengan tortor pembuka dari anak seni tari Unimed serta diiringi oleh pemusik dari Elcondor Pasa, komunitas pemusik tradisional yang digawangi Octavianus Matondang, alumnus Etnomusikologi USU.

Akhir acara, peserta mengadakan ramah-tamah dan berbagi pengalaman dalam menulis setelah sebelumnya, peserta membacakan cerpen dan puisi, seperti Ryka Turnip (penulis novel), Gita Tarigan dan Ayu Widya.

Oleh Riduan Situmorang