7 Prinsip yang Harus Dipegang Anak Perantauan

Merantau adalah proses menuju pembenahan diri. Jika niat telah timbul maka pantang rasanya untuk mundur, walau selangkah pun. Karena mundur adalah tanda kegagalan. Ibarat anak panah yang dihunuskan menghujam sasaran, ia tak akan pernah kembali, ia terus menembus batas dan mencapai tujuan yang ia capai.

Maka ingatlah wahai perantau, tantangan kalian begitu besar, ada banyak kerikil yang akan kalian lalui, tetap teguhkan hati, tengadahkan dada, dan jangan pernah menyerah.

Demikian beratnya tantangan yang dihadapi, maka perantau harus senantiasa tetap memegang ketujuh prinsip ini. Sedikit banyaknya dari kita akan merasakan ini, tapi dibalik itu semua ada hikmah yang selalu terselip, cahaya setitik apapun akan selalu bisa mengalahkan kejamnya kegelapan. So let’s check it out guys.

1. Pantang Pulang Sebelum Menggapai Mimpi

            Meninggalkan kampung halaman adalah hal yang berat. Bagaimana tidak, kita akan diperhadapkan dengan situasi yang baru, kehidupan yang baru, dan masyarakat yang baru. Ini semua menjadi tantangan tersendiri bagi seorang perantau. Dan tak jarang kita merasa jenuh, bosan, dan ingin pulang ke kampung halaman.

Ok, tak menjadi masalah bila kampung halaman kita dekat, otomatis kita bisa dengan cepat sampai bila hendak pulang ke kampung halaman. Namun, bagaimana dengan yang jauh?

Baca: Jangan Terlarut dalam Kegagalan, Bangkitlah untuk Sejuta Mimpi

Kalau hal ini terlintas, maka kembalilah ke tujuan awal dirimu merantau, merantau proses meraih mimpi. Tanamkan dalam diri untuk bisa meraih cita-cita itu. Pantang pulang sebelum menggapai mimpi.

2. Peganglah Integritas

            Salah satu prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang perantau adalah memiliki sikap integritas. Maksudnya, ada sebuah keteguhan hati, berkepribadian yang baik dan selalu memegang komitmen dengan kesungguhan hati.

prinsip-hidup-anak-perantauan

Siap mengatakan benar untuk kebenaran dan salah untuk kesalahan. Memang tidak mudah, namun bisa dilakukan bila kita memiliki kesadaran yang kuat dalam diri sendiri. Contohnya, sebelum kita pergi merantau, ada komitmen kita untuk tidak mengutang kepada kawan, apapun ceritanya.

Nah, ini menjadi salah satu integritas tersendiri yang harus dipegang teguh oleh seorang perantau. Dan kita patut menghargai hal itu

3. Hidup yang Menghidupi

            Ketika di perantauan jadikanlah diri anda menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar anda, entah itu kecil atau besar yang penting anda berdedikasi di sana. Banyak dari kita yang datang merantau demi tujuan dan cita yang tak satu setan pun tahu.

OK, tak masalah, itu lumrah. Namun coba renungkan dalam diri anda, apakah saya berguna buat orang lain, apakah saya bermanfaat bagi lingkungan saya? Cobalah untuk melakukan hal kecil. Misalnya, ketika ada kawan mengalami kendala dalam hal belajar, kita yang memang sudah mengerti cobalah untuk membantunya dengan memberikan masukan dan arahan.

Nuansa inilah yang harus dibangun demi mengintimkan hubungan diantara kita. Perantau harus memiliki jiwa seperti ini.

4. Mandiri

            Jauh dari orang tua mengharuskan kita untuk senantiasa berpikir kedepan dan mandiri. Adalah tidak mungkin bagi seorang perantau untuk menggantungkan diri pada orang tua.

Baca: Untukmu yang Sedang Berjuang di Perantauan, Bersabarlah

Bagaikan benalu pada pohon sawit, kita selalu tergantung dan tak jarang menjadi parasit bagi inangnya. Di perantauan, kita akan merasakan bagaimana sakitnya berjuang, masak sendiri, nyuci sendiri, semua serba sendiri.

Tapi hal itulah yang semakin membuat kita semangat untuk menuntaskan perjuangan itu. Jadilah pribadi yang mandiri, cobalah hal-hal yang membuat anda betah dan bahkan dari situ anda bisa mendapatkan finansial untuk menambah keuangan anda. Gunakanlah kemampuan anda untuk salah satunya mencari finansial, gunakanlah karunia Tuhan itu.

5. Pandai Mengelola Uang

harus pintar mengelola keuangan

            Sebagai mahasiswa perantauan, kendala yang sering kita alami adalah persoalan uang. Bagaimana kita dihadapkan dengan situasi keuangan yang pada akhir bulan bisa mencekik dan menguras keuangan kita.

Belum lagi dengan uang kost, dan segala macam tetek bengeknya yang terkadang membuat kita tak sadar entah sudah kemana saja duit itu pergi. Nah, di sinilah kita penting untuk mengelola uang. Caranya tak mudah namun tak sulit juga. Mulailah menyisihkan uang dan menabung. Seribu rupiah tiap hari, pun tak masalah.

Baca lagi: 10 Tips Cerdas Mengelola Uang Saku untuk Anak Kos

Karena di kala hari tua datang, maka itu bisa kita jadikan sebagai pelepas dahaga finansial kita. Tidak mudah namun bisa dilakukan. So, tunggu apa lagi?

 6. Jaga Pergaulan

            Hidup di perantauan tentu akan bersinggungan dengan kehidupan rantau yang tak biasa kita alami di kampung. Apa lagi hingar bingar kota yang penuh glamor dan kemewahan selalu menawarkan beragam cerita yang fantasi dan semu. Tak jarang itu justru membuat kita tergoda dan kemudian bersinggungan dengan pergaulan yang bebas.

Banyak dari anak perantauan yang kemudian masuk dan terjun ke dalam kubangan hitam pergaulan bebas. Entah itu memakai narkoba, seks bebas, terjerat lingkaran prostitusi, dll.

Ini sama halnya, kita telah mencederai prinsip-prinsip yang ada di atas tadi. Maka pandai-pandai lah bergaul, semua boleh ditemani, tapi ingat, tak semua dari mereka patut di contoh, contohlah yang baik, dan berusahalah untuk memberikan teguran bila si teman salah. Benar untuk benar, dan salah untuk salah.

7. Ibadah dan Doa= Pondasi Hidup

            Kalau diantara kita ada yang menganggap kekuatan doa tidak ada apa-apanya, maka patutlah kita ubah pemikiran demikian. Doa adalah nafas orang beriman, dan alat untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Keluh kesah, pergumulan dan cobaan hidup tetaplah kita selalu mencoba menyelesaikannya dengan bantuan dari Tuhan. Jangan pernah sesekali kita mengabaikan kekuatan doa.

Dan hendaklah kekuatan doa ini selalu diiringi oleh semangat kita beribadah, karena ibadah juga menjadi tiang tegaknya sebuah agama. (Lagi-lagi) ini tidak mudah, namun kita bisa memulainya dari langkah kecil, dari diri sendiri dengan keinginan yang besar.

Kalau ini saja kita pegang, dan selalu kita rawat, niscaya kita adalah tergolong perantau yang berhasil menjadi perantau yang hidup menghidupi hidup itu sendiri. Mulailah dari diri sendiri, jadilah pribadi yang tangguh, yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga.

Oleh: Fajar Anugrah Tumanggor

*Penulis adalah penyuka humor yang tidak lucu.

Komentar: