Sumut Butuh Pengajar Muda

sumut butuh pengajar muda

Pada pertengahan bulan Juni ini, penulis berkesempatan mengunjungi salah satu dataran tinggi  yang ada di Sumatera Utara yakni daerah Karo. Tepatnya berada di Kecamatan Kabanjahe, Desa Lau Simomo. Pemandangan hijau terpampang luas tatkala penulis melakukan perjalanan menuju Desa tersebut.

Adapun kunjungan penulis pada waktu itu untuk melaksanakan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian bersama rekan-rekan lainnya selama dua belas hari yang terkonsolidasi dalam suatu komunitas yang kami berikan nama dengan Gerakan Sumut Mengajar.

Terhitung (ketika penulis menuliskan tulisan ini), kami sudah berada di Desa Lau Simomo ini selama kurang lebih 4 hari lamanya. Tentu, 4 hari berjalannya pengabdian kami, banyak hal  yang kami dapatkan. Kehidupan baru, masyarakat yang baru serta kebiasaan-kebiasaan baru yang belum pernah kami jumpai sebelumnya.

Sesuai dengan nama komunitas yang kami bentuk, yakni Gerakan Sumut Mengajar, maka barang tentu tujuan dan maksud kami datang ke Desa ini ialah untuk melakukan pengabdian berupa pemberian pengajaran serta pendidikan kepada anak-anak. Adapun pendidikan yang kami fokuskan tidak hanya menyentuh ranah pendidikan formal bagi anak-anak, akan tetapi juga menjangkau ranah eksternal berupa kegiatan pengembangan minat bakat atau kegiatan ekstrakulikuler.

Baca: Menulis Sebagai Aktualisasi Pembelajaran

Antusias

            Kedatangan kami disambut baik oleh masyarakat, sekolah, serta dari anak-anak yang ada di Desa Lau Simomo. Ketika penulis melakukan audiensi dengan pihak Kepala Desa serta dari pihak sekolah untuk memberikan kami izin dalam hal pengajaran serta pengabdian kepada sekolah maupun kepada masyarakat, respons kepala desa serta pihak sekolah sungguh menerima dengan lapang dada serta begitu antusias.

Adapun argumen mereka ialah karena mereka masih kekurangan tenaga pendidik yang terkonsentrasi di desa tersebut karena banyak guru yang berasal dari luar, dan tak jarang tidak hadir untuk menunaikan tugas pengajaran karena jarak desa ke kota yang begitu jauh.

Dalam hal ini juga, yang ingin kami sampaikan ialah mengenai antusiasme anak-anak yang begitu tinggi tatkala kami memberikan pengajaran serta bermain cerdas dengan games yang sudah kami siapkan sedari awal sebelum kunjungan kami ke desa ini. Anak-anak begitu senang dan gembira sekali menyambut kedatangan kami.

Anak-anak begitu menyatu dengan kami. Lagi pula bagi kami pribadi, sudah seharusnya kita kaum terdidik memberikan pendidikan kepada banyak orang, karena ilmu sejatinya memang harus dibagi layaknya kran air yang selalu menyalurkan airnya tanpa pamrih dan balas jasa.

sumut butuh pengajar muda

Pengabdian dimaknai sebagai proses menyatunya kita dengan masyarakat dalam bingkai kehidupan mereka sehari-hari. Artinya, pada titik ini sudah jelaslah bahwa tiada pamrih disana, tiada balas jasa disana, yang ada hanya ikhlas hati, rela berkorban serta berupaya keras memberikan sumbangsih baik itu pemikiran, material, serta tenaga demi perbaikan kehidupan suatu masyarakat.

Apalagi dalam pendidikan. Pendidikan sejatinya adalah hak setiap manusia. Setiap manusia harus mendapatkanya tanpa pandang bulu, suku, ras atau agama. Korelasi yang bisa penulis tarik dari hakekat itu adalah, sudah seharusnya kita sebagai kaum muda (khususnya) yang sudah terdidik memberikan sumbang sih kepada negeri teruntuk perbaikan pendidikan kita yang saat ini sedang berada pada tahap akut.

Baca: Liburan Lebih Bermanfaat dengan 5 Kegiatan Ini

Saya ingat betul dengan perkataan J. F Kennedy, begini katanya (maaf sedikit di revisi) “Jangan tanya apa yang telah diberikan negara padamu, tapi tanyalah apa yang telah kamu berikan kepada masyarakat”. Sebuah perkataan yang bisa menjadi renungan bagi kita semua sudah seberapa banyak kita memberikan sumbangsih kepada negeri ini. Saya tidak ingin membincangkan masalah pemerintah disini, pemerintah kita memang semuanya sedang sakit.

Tapi bagi saya, dibalik sebuah sistem yang carut-marut itu, akan ada dan tampil orang-orang yang memiliki visi kedepan dalam perbaikan suatu bangsa. Itulah generasi muda. Bagi penulis sendiri, generasi muda (terkhusus intelektual muda) adalah motor penggerak suatu perubahan.

Pramoedya Ananta Toer mengatakan dengan jelas bahwa suatu perubahan hanya bisa tercapai bila pemuda bergerak.

Perhatian besar pada pemuda bukan lah isapan jempol belaka. Pemuda memiliki fungsi yang cukup signifikan dalam memajukan suatu negara. Fungsi yang nyata ialah sebagai agent of change.

Suatu perubahan hanya bisa tercapai bila para generasi muda memberikan sumbangsih tenaga, material serta pemikiran.

Baca: 5 Kunci Kesuksesan Sundar Pichai menjadi CEO Google

Terkait dengan masalah pendidikan ini misalnya. Banyak sekali kita temukan jumlah tenaga pendidik yang ada di desa-desa sungguh minim sekali. Hal ini memberikan sinyalmen yang negatif pada dunia pendidikan kita, karena guru/tenaga pengajar (pendidik) merupakan garda terdepan dalam upaya merealisasikan pendidikan yang bermutu bagi siswanya.

Hal itu tidak hanya didapat dari generasi tua semata, dari generasi muda (seperti kami-kami ini) juga bisa memberikan sumbangsih seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Mengapa harus pengajar muda? Karena orang-orang muda pemikirannya masih jernih, ide-ide brilian bisanya muncul (dan bahkan mayoritas) dari pemikiran-pemikiran anak muda. Sudah barang tentu, pemerintah harus memperhatikan hal ini.

Sumut sendiri sebagaimana kita ketahui juga masih memiliki beberapa kendala terkait dengan jumlah pengajar tersebut. Untuk tahun 2013 sendiri, ada sekitar 18.257 tenaga pengajar yang masih dibutuhkan di Sumut ini (m.bisnis.com).

Sedangkan untuk tahun 2015 sebagaimana menurut laporan LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) akan ada sekitar 1.571 pengajar (SD-1.335 orang, SMP-236 orang) yang pensiun. Tentu ini mengurangi kuota tenaga pengajar, dan pemerintah harus mencari pengganti mereka yang pensiun.

Di Desa Lau Simomo saja hanya sekitar belasan guru yang ada dan mengajar di sana. Itupun bisa hadir bila situasi dan kondisi cuaca mendukung. Bila hujan deras melanda, maka sulit lah bagi guru-guru yang berasal dari kota untuk datang ke sekolah lantaran jarah yang begitu jauh.

Butuh Pengajar Muda

Untuk dari itu, bagi saya yang terpenting, pemerintah harus membuat grand design program dalam upaya melahirkan pengajar-pengajar muda yang kemudian dilatih baik dalam ranah akademis maupun ranah organisasi. Pemerintah harus jeli melihat situasi dan kultur masyarakat desa yang kental akan nilai-nilai kekeluargaan.

Pemerintah harus memberdayakan pengajar muda yang tersebar di seluruh universitas di Indonesia tidak hanya untuk merealisasikan tujuan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian, akan tetapi juga untuk melakukan pengajaran demi perbaikan pendidikan di Sumut ini.

Mari bersinergi memperbaiki pendidikan yang ada di Sumut. Mari bertindak, jangan larut mengutuk keadaan. Karena sudah menjadi kewajiban bagi terdidik untuk memberikan pendidikan kepada mereka yang belum atau pun tidak mendapatkan pendidikan. Semoga.

Fajar Anugrah Tumanggor

*Penulis adalah Relawan Pengajar Muda Gerakan Sumut Mengajar Jilid II

Komentar: