6 Momen Sedih “Mahasiswa si Anak Rantau” tetapi Mengajarkan Arti Kedewasaan

momen mahasiswa perantau

Masa sekolah mungkin pernah terlintas di pikiranmu tentang keberadaan akan zona nyaman dan indahnya bersama keluarga. Saat-saat seperti itu kamu  mungkin pernah juga merasa bosan karena terasa kurang tantangan. Hingga waktu kelulusan sekolah tiba, muncul rasa untuk melanjutkan kuliah di luar kota, di tanah orang.

“Mahasiswa si Anak Rantau” itulah julukan yang kamu emban. Berharap bisa menemukan kembali tantangan yang dulu sempat buat hidupmu bosan. Namun kenyataannya, hidup di perantauan tak semudah yang kamu bayangkan.

Banyak hal-hal baru yang kadang membuat lelah atau bahkan terpaksa menangis karena tidak dapat lagi ditahan dan dipendam.

Namun beberapa momen tertentu  perlahan-lahan mampu membuatmu belajar, mengubah sifat, melatih tanggung jawab dan tentunya membuat pribadi yang semakin dewasa. Dan itu adalah masa yang penuh tantangan tersendiri bagi kamu yang menjalaninya.

1. Saat Keuangan sudah Menipis

Makan seadanya, menahan hasrat jajan dan menyampingkan untuk sekedar keluar dengan kawan-kawan sudah menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa perantau.

Nyatanya kehidupan sebagai mahasiswa yang mengemban julukan “si anak rantau” memang tidak seindah saat bersama keluarga.

Saat seperti ini, kelanjutan hidupmu sepenuhnya tergantung pada usaha yang dilakukan. Saat uang bulanan ataupun tabungan mulai menipis karena kebutuhan diri sendiri kamu tidak bisa bersikap manja dan menuntut banyak pada oragtua lagi.

Akibatnya kamu harus pintar-pintar mengatur keuangan, agar sisa tabungan yang ada cukup untuk kehidupan.

Baca: 10 Tips Cerdas Mengelola Uang Saku untuk Anak Kos

2. Momen Hari Besar

Source: pixabay.com

Yang satu ini juga kerap dialami “mahasiswa si anak rantau”. Saat hari besar seperti Lebaran ataupun Natal yang biasanya kita selalu berkumpul bersama keluarga di rumah sering tidak terwujud karena kondisi ekonomi atau pun kehabisan tiket untuk pulang.

Hitungan bulan atau bahkan tahun dilalui dengan sabar memendam kerinduan akan suasana rumah, terlebih di hari besar.

Jarak dan waktu serta kondisi sulit lainnya membuatmu tidak ada pilihan selain tetap menunda hasrat untuk mengobati rindu.

Mungkin dengan canggihnya teknologi zaman sekarang, kamu dapat melakukan panggilan video bersama keluarga walau harus menyamarkan matamu yang sudah mulai berlinang.

3. Kegagalan

Sebagai mahasiswa tidak asing lagi kalau masalah bermunculan di suasana kampus termasuk tugas-tugas yang seolah tidak berhenti merenggut tidur malammu.

Terlebih setelah apa yang kamu lakukan sepanjang malam mendapat nilai buruk atau bahkan ditolak oleh dosen.

Hal lainnya ketika kamu berorganisasi, mengikuti perlombaan, pertandingan yang kamu berharap besar membuatmu semakin baik nyatanya gagal dan tidak jarang mendapat jengkalan dari orang.

Baca: Untukmu yang Sedang Berjuang di Perantauan, Bersabarlah

Sebagai “mahasiswa si anak rantau”, memang tidak akan tertantang sebelum kamu merasakan yang namanya gagal.

Sebab dari kegagalan itu kamu dapat mengetahui seberapa kemampuanmu untuk dapat berjuang meraih apa yang ingin kamu wujudkan.

Kasus ini mengajarimu bagaimana berdamai dengan rasa sakit hati, meski saat mencobanya kamu harus menikmatinya sendiri.

Lagipula tidak enak rasanya jika berbagi dengan keluarga yang jauh ataupun teman dekat jika yang dibagikan itu adalah kegagalan belum keberhasilan.

4. Sakit

mahasiswa banyak tugas
Source: blogspot.com

Sehebat apapun “mahasiswa si anak rantau” me-manage kehidupannya di tanah orang, juga tidak mungkin untuk tidak mengalami sakit. Saat seperti inilah kamu akan merasakan sakit dua kali.

Biasanya ketika sakit kamu masih dirawat dan di perhatikan oleh keluarga. Ingin rasanya kamu memberi kabar kepada keluarga kalau kamu sedang sakit, tetapi rasanya itu sangat sulit karena bukannya makin sembuh kamu akan merasa semakin sakit karena semakin rindu.

Baca juga: 7 Prinsip yang Harus Dipegang Anak Perantauan

Mungkin saat seperti ini ucapan “sok kuat” akan menempel pada dirimu. Apalagi saat kondisi seperti itu tiba-tiba orangtua menelepon dan menanyakan kabarmu. Rasanya hanya anak rantaulah yang tahu itu.

5. Mendapat kabar kalau Ayah, Ibu, Keluarga Sakit

Saat kamu yang sakit, kamu menitikkan airmata. Saat keluargamu yang sakit kamu juga akan menitikkan air mata. Setelah mendengar kabar tersebut kondisi tidak memungkinkan untuk pulang. Mungkin jadwal dan projek kuliah, ujian atau ongkos untuk pulang.

Sebagai “mahasiswa si anak rantau”, kamu hanya dapat berdoa diiringi derai airmata dan rindu yang semakin menjadi-jadi.

6. Dikunjungi dan Kembali

Orangtua datang mengunjungimu secara tiba-tiba, membuat kejutan untukmu karena pada dasarnya merekapun memiliki rindu dan kekhawatiran yang lebih besar akan dirimu.

Rasa senangmu tidak dapat digambarkan, bahkan untuk menyatakannyapun kamu bingung harus berucap apa. Tetapi waktu begitu cepat, tidak terasa orangtumu akan kembali pulang ke kampung halaman.

Momen itu sangat menyesakkan tetapi sebisa mungkin kamu akan kembali mengandalkan sikap “sok kuat” yang akan benar-benar membuatmu kuat.

Momen-momen di atas memanglah sangat tidak enak. Tapi itulah kenyataan yang harus dijalani “mahasiswa si anak rantau” yang jauh dari keluarga.

Pelan-pelan kamu akan belajar tentang arti kedewasaan. Walau tidak mudah, menjalaninya memang dibutuhkan sikap yang tabah.

Penulis: Dewi Safrida
Teknologi Informasi USU

Komentar: